Zonajakarta.com - Laut China Selatan yang berbatasan dengan Natuna Indonesia adalah salah satu perairan yang paling penting secara ekonomi dan geostrategis di dunia.
Wilayah Laut China Selatan diperdebatkan dengan sengit di antara Tiongkok dan banyak negara ASEAN termasuk Indonesi.
Beijing, kelas berat ekonomi dan militer di kawasan itu, mengklaim lebih dari 80% Laut China Selatan dan mendukung klaimnya dengan peta tahun 1947 yang menunjukkan tanda-tanda samar yang kemudian dikenal sebagai Nine Dash Line.
China juga berusaha untuk menopang klaimnya yang luas atas Laut China Selatan dengan membangun pangkalan militer dan pulau buatan di tempat-tempat strategis.
Pada tahun 2016, pengadilan resolusi perselisihan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Den Haag memutuskan dengan suara bulat menentang validitas sembilan garis putus-putus alias Nine Dash Line, tetapi China menolak putusan tersebut dan tetap mempertahankan klaimnya.
Hingga akhirnya hingga kini China kerap berselisih dengan banyak negara ASEAN lantaran klaim Nine Dash Line.
Tentu saja hal ini sangat ditentang musuh bebuyutan China, Amerika Serikat (AS).
Bahkan lewat rilis resmi Kedutaan Besar AS di Indonesia pada 14 Juli 2020 lalu, Amerika Serikat menyebut akan memperjuangkan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka lewat sebuah statment berjudul "Laut China Selatan, Warisan Asia Tenggara dan Halaman Belakang Semua Orang".
"Menteri Pompeo mengumumkan sebuah langkah penting untuk memperkuat kebijakan kami, dan untuk berdiri teguh bersama mitra-mitra kami di Asia Tenggara dalam membela hak kedaulatan mereka.
Menlu AS mengeluarkan pernyataan kebijakan mengenai klaim maritim di Laut Cina Selatan, bertepatan dengan peringatan keputusan pengadilan tahun 2016.
Sejak keputusan tersebut, kami menyatakan bahwa keputusan tersebut bersifat 'final dan mengikat secara hukum' bagi kedua belah pihak, Tiongkok dan Filipina.
Pengumuman ini lebih jauh lagi, untuk memperjelas: RRT tidak berhak menindas negara-negara Asia Tenggara atas sumber daya lepas pantai mereka," jelas Kedutaan Besar AS di Indonesia.
Baca Juga: AS Ingkar Janji, Pangkalan Militer Indonesia di Natuna Ternyata Pembangunannya Sekarang Begini
Artikel Selanjutnya
Terlanjur Viral, Greco Justru Disebut TKN Tak Minta Bantuan AS Selidiki Pembelian Mirage 2000 Bekas Qatar yang Indonesia Batalkan
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.
Sumber: Forbes, East Asia Forum, id.usembassy.gov