ZONAJAKARTA.com - Presiden Prabowo Subianto bertemu Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Élysée, Paris, pada 14 April 2026.
Pertemuan tersebut membahas penguatan kerja sama strategis kedua negara, termasuk pengadaan alutsista dan pengembangan industri pertahanan.
Diskusi ini langsung memicu spekulasi luas di kalangan pengamat pertahanan tentang kemungkinan order tambahan jet tempur Rafale.
Namun, Kementerian Pertahanan Indonesia dengan cepat memberikan klarifikasi.
Kementerian Pertahanan: Pemerintah Pertimbangkan Penambahan Jet Rafale
Kementerian Pertahanan Indonesia menyatakan tidak ada rencana untuk melakukan order baru Rafale dalam waktu dekat ini.
Juru bicara Kementerian Pertahanan, Brigjen Rico Ricardo Sirait, menegaskan bahwa hingga saat ini pemerintah belum mengambil keputusan untuk mengakuisisi unit Rafale tambahan.
Pernyataan ini muncul sebagai respons langsung terhadap rumor yang berkembang setelah pertemuan Prabowo-Macron.
Dikutip dari Jakarta Globe, "Indonesia Says No New Rafale Order, 3 Jets Set for May Arrival", 16 April 2026, juru bicara Kementerian Pertahanan menyatakan tidak ada penambahan unit jet Rafale baru.
“Saat ini belum ada detail teknis yang dapat kami berikan. Namun hingga hari ini, Indonesia belum mengambil keputusan untuk mengakuisisi lebih banyak unit Rafale. Pemerintah masih mempertimbangkan gagasan tersebut,” tutur Brigjen Rico.
Klarifikasi ini penting untuk meredam spekulasi yang bisa memengaruhi persepsi publik terhadap kebijakan pertahanan nasional.
Latar Belakang Kontrak Rafale yang Sudah Berjalan