Berdasarkan Joint Statement on Establishment of the U.S.-Indonesia Major Defense Cooperation Partnership yang dirilis Departemen Perang AS pada 13 April 2026, MDCP dibangun di atas tiga pilar yakni modernisasi militer dan capacity building, pelatihan dan pendidikan militer profesional, serta latihan dan kerja sama operasional yang semuanya berlandaskan prinsip saling menghormati kedaulatan masing-masing negara.
Di luar tiga pilar itu, kedua pihak juga sepakat untuk menjajaki pengembangan bersama kemampuan asimetris dan teknologi pertahanan generasi berikutnya di domain maritim, bawah laut, dan sistem otonom.
Kerja sama pelatihan pasukan khusus juga masuk sebagai bagian dari simbol kepercayaan yang dibangun lewat kemitraan ini.
Dalam pidatonya di Pentagon, Hegseth menyebut Super Garuda Shield secara spesifik sebagai salah satu latihan lintas-domain multinasional terpenting di kawasan Indo-Pasifik saat ini.
Sementara Menhan Sjafrie Sjamsoeddin menegaskan bahwa seluruh kerja sama ini dijalankan atas dasar saling menghormati dan saling menguntungkan.
"Kami bekerja atas dasar saling menghormati dan saling menguntungkan untuk meningkatkan nilai kepentingan nasional kita," kata Sjafrie dikutip ZONAJAKARTA.com dari laman resmi Kedutaan Besar AS di Jakarta "Hegseth, Indonesian Counterpart Announce Defense Partnership" 14 April 2026.
Apa Artinya bagi TNI ke Depan
MDCP membuka jalur yang sebelumnya lebih sulit diakses.
Dengan kerangka formal ini, TNI berpeluang mendapatkan akses lebih luas ke teknologi pertahanan AS, program pendidikan militer tingkat lanjut, serta skema kerja sama industri pertahanan yang bisa mendukung agenda modernisasi alutsista yang sedang berjalan.
Laporan Defence Security Asia pada 14 April 2026 " Indonesia Moves Closer to US Strategic Orbit as Pentagon Eyes Overnight Military Air Access Across Southeast Asia" mencatat bahwa format MDCP dirancang serupa dengan kerangka yang sebelumnya diberikan AS kepada India dan Uni Emirat Arab, dua negara yang bukan sekutu formal AS tapi memiliki kedekatan pertahanan yang dalam dan terstruktur.
Artinya, Indonesia masuk ke kelompok mitra strategis yang diperlakukan berbeda dari kerja sama pertahanan biasa.
Yang juga patut dicatat, seluruh proses ini tidak mengubah posisi Indonesia sebagai negara dengan kebijakan luar negeri bebas aktif.
MDCP bukan pakta militer dan bukan perjanjian aliansi.