nasional

Source Code Rafale Jadi Alasan India dan UEA Kesal dengan Dassault Aviation Namun Ini Sebab Indonesia Bertahan

Sabtu, 18 April 2026 | 07:41 WIB
Isu source code Rafale tak pengaruhi sikap Indonesia meski India dan UEA menilainya berbeda. (Dassault Aviation)

ZONAJAKARTA.com - India dan Uni Emirat Arab (UEA) yang lebih dulu menjadi pelanggan prioritas Dassault Aviation sebelum Indonesia masuk dalam daftar pengguna Rafale belakangan dibuat kesal.

Pasalnya, Dassault Aviation sebagai salah satu flagship industri pertahanan Prancis enggan untuk berbagi source code Rafale dengan dalih "kedaulatan teknologi".

Sikap kesal yang India dan UEA tunjukkan justru berbanding terbalik dengan Indonesia yang memilih untuk setia sekaligus bertahan.

Baca Juga: Sudah Dibeli Indonesia Ternyata Rafale F4 Tak Lagi Jadi Prioritas Utama Prancis Ini Alasannya

Sebagaimana diketahui, India memang hendak mengincar 114 unit Rafale tambahan karena mereka selama ini hanya mengandalkan 36 unit varian F3 dan baru menambah 26 unit varian khusus kapal induk (Rafale Marine) pada tahun 2025.

Rinciannya, New Delhi mengincar 90 unit varian F4 dan 24 unit varian F5 yang saat ini tengah dikembangkan.

Melalui langkah ini, Negeri Bollywood itu berharap transfer teknologi (ToT) bisa diperoleh secara utuh.

Apalagi kontrak antara Dassault Aviation dengan Tata Group mengenai pendirian fasilitas produksi di Hyderabad sudah disepakati.

Akan tetapi sebagaimana dilansir ZONAJAKARTA.com dari laman Eurasian Times melalui artikel berjudul "Software Crisis Threatens Rafale Deal: India Pays 100% But Gets Only 60% of the French Fighter: OPED" yang dimuat pada Selasa, 7 April 2026, realita yang dihadapi justru berbanding terbalik dengan ekspektasi awal.

India diharuskan untuk membayarnya dengan harga penuh, namun upaya gatekeeping source code Rafale membuat benefit ToT hanya akan diperoleh hingga 60 persen saja.

Mengapa India Butuh Banget Source Code Rafale?

India sangat membutuhkan akses terhadap source code Rafale dalam ToT yang diajukan lantaran fleksibilitasnya dalam memodifikasi komponennya.

Terutama mengenai potensi integrasi dengan rudal R-37 buatan Rusia maupun senjata yang diproduksi sendiri di dalam negeri.

Sementara tanpa akses tersebut, modifikasi pesawat semacam ini harus melalui persetujuan Dassault Aviation selaku pabrikan.

Halaman:

Tags

Terkini