Source Code Juga Sebabkan UEA Mundur dari Proyek Rafale F5
Dengan alasan serupa India yakni source code, UEA juga menyatakan mundur dari proyek pengembangan Rafale F5.
Padahal Abu Dhabi sudah menyatakan komitmen untuk mengalokasikan dana sebesar 3,5 miliar euro dari total nilai proyek yakni 5 miliar euro.
Angka tersebut jauh lebih besar dari Prancis sebagai inisiator yang hanya butuh membayar 1,5 miliar euro saja.
Menurut artikel berjudul "France’s Tech Sovereignty Backfires? UAE Exits Rafale F5, India Blocked on Codes, Germany Frustrated with FCAS" yang dimuat oleh laman Eurasian Times edisi Selasa, 7 April 2026, mundurnya partner yang bahkan sudah lebih dulu membeli Rafale F4 sebanyak 80 unit sebelum Indonesia bergabung menyebabkan Paris harus menanggung biaya pengembangan varian penerusnya secara utuh.
Ditambah pula ketika UEA menyatakan mundur, harapan untuk menjadi mitra pengembangan Future Combat Air Systems (FCAS) semakin menipis.
Masa depan penerus Rafale itu pun kini terancam berada di ujung tanduk, mengingat belum jelas apakah Prancis dan Jerman sudah menyepakati mediasi atau justru menemui jalan buntu untuk melanjutkan kerja sama.
Baca Juga: Jenderal Prancis Akui Kelemahan Militer Puluhan Tahun, Rafale F5 dan STRATUS Jadi Upaya Menebusnya
Beda Pandangan Mengenai Source Code
Perlu diketahui bahwa source code Rafale memiliki tingkat kerumitan dari yang dibayangkan oleh operator jet tempur tersebut.
Pasalnya, seluruh source code terdiri dari jutaan baris.
Sementara para programmer Angkatan Udara India (IAF) membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa memahaminya secara komprehensif.
Begitu pula dengan UEA yang menginginkan hal tersebut untuk Rafale F5.
Faktanya, yang sesungguhnya akan diberikan oleh Dassault Aviation kepada New Delhi maupun Abu Dhabi adalah akses ke lapisan terendah yang spesifik untuk sensor dan perangkat keras agar dapat memasang sensor dan sistem senjata baru.
Serta mungkin juga lapisan tertinggi untuk menyesuaikan beban tempur dan parameter manuver.