Malah Indonesia berpikir membeli Mirage 2000 bekas sebagai proses transisi ke Rafale.
Padahal Prancis sama sekali tak menyarankan proses transisi menggunakan Mirage 2000 karena nantinya ada pelatihan bagi pilot dan ground crew Indonesia untuk mengoperasikan Rafale.
Jadi pembelian Mirage 2000 sebetulnya tak dibutuhkan.
Indonesia sebetulnya bisa saja memakai duit sekiranya 700 juta dolar AS untuk membeli beberapa gelintir F-16 Viper baru.
Atau biaya upgrade F-16 lawas ke Viper, itung-itung nyicil kemampuan demi mendapatkan F-35 di masa depan.
Sebenarnya Mirage 2000 bekas AU Qatar pernah diincar oleh India.
India yang memang mengoperasikan Mirage 2000 ingin menambah armadanya lantaran lini produksi jet tempur tersebut sudah ditutup.
Maka membeli bekas adalah solusi baginya.
Namun India membatalkannya lantaran akan menambah biaya perawatan bagi Mirage 2000 bekas.
"Angkatan Udara India berusaha untuk menegosiasikan pembelian pesawat tempur ini pada satu titik tetapi tidak dapat menyetujui karena alasan yang berkaitan dengan keuangan dan birokrasi intra-India.
Baca Juga: Ganjar Pranowo Jadi Capres PDIP Untuk 2024 Mendatang, Puan Maharani Legowo: Ini Langkah Kemenangan
Meskipun dilaporkan pada November 2021 bahwa kesepakatan telah dicapai atas akuisisi pesawat ini oleh perusahaan swasta Prancis Ares, yang bermaksud menyediakan mereka berdasarkan kontrak untuk menyediakan layanan pelatihan tempur kepada pelanggan (perusahaan tersebut telah memiliki kontrak dengan Angkatan Laut Prancis), perjanjian itu akhirnya gagal terwujud," jelas Frontier India pada 17 November 2022.
Ketika India membatalkan pembelia, Bulgaria mencoba menggantikannya.
Bulgaria ingin mempensiunkan dini MiG-29 untuk menggantinya dengan F-16.
Karena pengiriman F-16 terlambat maka Bulgaria ingin sewa saja Mirage 2000.