ZONAJAKARTA.com - Indonesia memang sengaja membeli jet tempur T-50i Golden Eagle dari Korea Selatan.
Pembelian T-50i Golden Eagle sebagai jawaban atas kebutuhan militer Indonesia akan jet tempur latih.
Pasalnya Hawk Mk.53 sudah dipensiunkan oleh Indonesia sehingga memerlukan T-50i Golden Eagle.
Kebetulan Korea Selatan sedang mempromosikan T-50 dan Indonesia membelinya.
Pengiriman pertama T-50i Indonesia dilakukan pada Januari 2014.
Indonesia membeli 16 unit T-50 dan belakangan ini menambah 3-4 buah lagi.
Cukup bagi Indonesia membeli T-50 lantaran itu hanya jet tempur latih, tak usah banyak-banyak.
Bahkan untuk serang ringan pun nampaknya T-50 masih kalah dengan Hawk 209 Indonesia.
Dikutip dari tni-au.mil.id, Hawk 209 ditugaskan mengemban misi air superiority dan ground attack.
Padahal ia masuk dalam kategori Light Fighter sejenis dengan T-50.
Tapi bila T-50 disuruh melakukan peran air superiority ia jelas tak mampu.
Perbedaan ini memang tampak nyata dimana Hawk 209 masih sangat kuat dalam peran penguasaan udara bagi Indonesia.
Sebetulnya bila ingin mendapat varian lebih canggih dari T-50 ada FA 50.
FA 50 inilah yang setanding bila perannya diadu dengan Hawk 209.
FA 50 merupakan versi lanjutan penempur ringan dari T-50.
Baca Juga: Demi Produksi F-15 Eagle II Incaran Indonesia, Boeing Bakal Buat F-18 Malaysia Jadi Besi Tua
Filipina, Thailand dan Malaysia membeli FA 50 untuk memperkuat barisan udaranya.
Ada alasan tersendiri kenapa Indonesia tak membeli FA 50.
Ada proyek KF-21 Boramae yang jadi prioritas tertinggi angkatan bersenjata Korsel saat ini.
Maka dari itu cukup bagi Indonesia membeli T-50 lantas lanjut konsentrasi KF-21 Boramae supaya hasilnya maksimal.
Karena T-50 setidaknya punya empat kelemahan fatal bila diajak dogfight.
Dikutip dari SIPRI dan Janes Defence Weekly, T-50 mempunyai keterbatasan jarak jangkau.
Padahal wilayah Indonesia amat luas perlu di cover jet tempur berdaya tahan tinggi alias mampu diajak lari marathon.
"Membatasi kemampuan pesawat untuk melintasi jarak yang lebih jauh atau untuk berada di udara untuk waktu yang lebih lama," jelas SIPRI.
Kemudian kelemahan kedua ialah minimnya loadout senjata.
T-50i tak bisa membawa senjata banyak layaknya F-16.
Padahal dalam gelar operasi udara dibutuhkan kadang satu kali sortie penerbangan untuk memukul musuh telak tanpa harus isi ulang munisi di pangkalan.
"T-50 memiliki keterbatasan dalam kapasitas senjata dan jumlah muatan," ungkapnya.
Kelemahan ketiga, radarnya kacrut.
Baca Juga: Tak Punya Uang Tunai, Malaysia Bayar FA 50 Pakai Minyak Sawit
Sebetulnya Indonesia bisa request jenis radar kelas wahid, namun belakangan ini Hanwha System Korsel mencoba membuat radar sendiri bagi T-50.
Keempat, ketergantungan suku cadang kepada AS.
Meski dibuat di Korsel, nyatanya T-50 masih ketergantungan suku cadang dari AS.
Indonesia sama saja membeli T-50i Golden Eagle 'buatan' Lockheed Martin, suku cadang juga bisa berasal dari sana.
Tapi mau bagaimanapun Indonesia sudah oke bisa membeli T-50i meski performanya kadang tak memuaskan.*