ZONAJAKARTA.com - Nama Su-57E kembali mencuri perhatian. Jet tempur generasi kelima buatan Rusia ini bukan sekadar dipamerkan, ia sedang aktif ditawarkan ke sejumlah negara Asia yang selama ini tidak memiliki akses ke F-35 buatan Amerika.
Beberapa kontrak ekspor disebut sudah ditandatangani dan daftar pembelinya terus bertambah.
Yang menarik, Indonesia masuk dalam daftar negara yang berpotensi menjadi target pasar berikutnya.
DSA 2026, Panggung Rusia di Jantung Asia Tenggara
Kuala Lumpur menjadi lokasi pameran pertahanan terbesar Asia, Defence Services Asia (DSA) 2026, yang dijadwalkan berlangsung 20–23 April 2026 di Malaysia International Trade and Exhibition Centre (MITEC).
Di sana, Rosoboronexport, eksportir senjata negara Rusia di bawah Rostec State Corporation, hadir dengan satu bintang utama yaitu Su-57E.
Alexander Mikheev, Direktur Jenderal Rosoboronexport, menyatakan bahwa Su-57E adalah pilihan modernisasi yang relevan bagi negara-negara yang sudah mengoperasikan armada Sukhoi.
"Su-57E merupakan opsi modernisasi yang sangat baik bagi Angkatan Udara Kerajaan Malaysia, mengingat pesawat ini berbagi sejumlah sistem dan persenjataan yang serupa dengan armada Su-30MKM yang sudah mereka miliki," kata Mikheev sebagaimana dikutip ZONAJAKARTA.com dari laman Rosoboronexport edisi 14 April 2026 dalam artikelnya yang berjudul "ROSOBORONEXPORT to showcase latest Russian weapons at DSA 2026 exhibition in Malaysia".
Su-57E vs F-35: Dua Filosofi yang Berbeda
Membandingkan Su-57E dan F-35 Lightning II bukan soal mana yang lebih canggih secara mutlak karena keduanya dirancang dengan prioritas yang berbeda.
F-35 dibangun di atas prinsip stealth dan perang berbasis jaringan (network-centric warfare).
Dengan lebih dari 1.300 unit yang telah diserahkan ke 20 negara per awal 2026, F-35 adalah jet tempur generasi kelima yang paling luas digunakan di dunia.
Keunggulan utamanya terletak pada kemampuan penghindaran radar dan integrasi data dari berbagai sensor yang memungkinkan pilot "melihat lebih dulu dan menembak lebih dulu."