ZONAJAKARTA.com - Militer Indonesia itu susah ditebak pergerakannya.
Contoh paling gamblang bagaimana militer Indonesia sulit ditebak ialah saat Agresi Militer Belanda II 1948.
Saat itu Belanda yakin betul jika militer Indonesia sudah tak ada akibat ibu kota Jogjakarta sudah jatuh ke tangan mereka.
Padahal militer Indonesia mundur ke hutan-hutan untuk melakukan perang Gerilya.
Baca Juga: MBDA Meteor, Tumpuan Perang BVR Rafale dan KF-21 Boramae Indonesia
Taktik gerilya ini sengaja dilakukan karena militer Indonesia kalah dalam hal alutsista dibanding Belanda.
Akan tetapi anggapan ini juga dimanfaatkan militer Indonesia supaya Belanda mengira tentara republik tak bisa melakukan operasi ofensif.
Serangan Umum 1 Maret 1949 menjadi bukti konkret militer Indonesia melakukan operasi ofensif yang mengagetkan Belanda.
Serangan besar ini membuka mata dunia internasional bahwa Republik Indonesia masih ada.
Anggota United Nations Commission for Indonesia (UNCI) yang ditugaskan PBB untuk menilai Agresi Militer Belanda terperangah dengan serangan kilat militer Indonesia ke Jogjakarta.
UNCI lantas yakin bahwa republik Indonesia masih ada dan agresi Belanda melanggar Piagam PBB serta harus segera diakhiri.
Dan untuk saat ini boleh dibilang militer Indonesia masih menanam etos perjuangan itu.
Meski demikian mempertahankan kemerdekaan tak cukup dengan semangat juang saja, harus dibarengi dengan alutsista modern berdaya pukul mematikan.
Boleh dibilang saat ini militer Indonesia belum maksimal dalam modernisasi alutsistanya.