UPDATE! Kemhan RI Sebut Pemerintah Pertimbangkan Tambah Batch Rafale pasca Pertemuan Prabowo-Macron di Paris

photo author
Dian Farida Hanum, Zona Jakarta
- Kamis, 16 April 2026 | 18:28 WIB
Kemenhan Indonesia menyebut pemerintah masih mempertimbangkan rencana penambahan order Rafale baru pasca pertemuan Prabowo-Macron di Paris. (KEMHAN.GO.ID/Instagram @militer.udara)
Kemenhan Indonesia menyebut pemerintah masih mempertimbangkan rencana penambahan order Rafale baru pasca pertemuan Prabowo-Macron di Paris. (KEMHAN.GO.ID/Instagram @militer.udara)

Situasi ini mencerminkan pendekatan hati-hati pemerintah dalam modernisasi alutsista.

Konteks Modernisasi Pertahanan Indonesia yang Lebih Luas

Indonesia sedang gencar melakukan modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) di tengah dinamika geopolitik Indo-Pasifik.

Selain Rafale dari Prancis, TNI AU juga mengoperasikan berbagai platform dari negara lain, termasuk F-16 dan Su-27/30 yang sudah berusia.

Baca Juga: Rafale Jadi Pesawat Andalan untuk Misi NATO di Eropa Timur, Cukup 4 Unit Bisa Ubah Keseimbangan Strategis

Pemerintah juga menjalin kerja sama dengan Amerika Serikat melalui Major Defense Cooperation Partnership yang baru saja ditandatangani.

Diversifikasi sumber alutsista menjadi strategi utama untuk menghindari ketergantungan pada satu negara saja.

Dikutip dari The Straits Times, "Indonesia, France agree to boost defence industry ties", 15 April 2026, Indonesia dan Prancis sepakat meningkatkan kerja sama industri pertahanan pasca pertemuan di Paris, meski tanpa pengumuman order Rafale tambahan.

Pengembangan industri pertahanan dalam negeri juga menjadi prioritas paralel dengan pengadaan dari luar.

Dampak bagi TNI AU dan Keamanan Nasional

Baca Juga: India Harus Pilih Su-57E atau Rafale, Jawaban dari Keputusan Itu Bisa Ubah Peta Udara Asia

Kedatangan Rafale secara bertahap akan meningkatkan kemampuan multirole TNI AU secara signifikan.

Jet tempur generasi 4.5 ini dikenal dengan kemampuan superior dalam pertempuran udara, serangan darat, dan misi maritim.

Namun, proses integrasi memerlukan waktu untuk pelatihan pilot, pemeliharaan, dan infrastruktur pendukung.

Klarifikasi tidak ada order baru saat ini memberikan kepastian bahwa prioritas adalah memaksimalkan kontrak existing terlebih dahulu.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dian Farida Hanum

Sumber: RFI, The Strait Times, Le Monde, Jakarta Globe

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X