Jika salah satunya diembargo maka yang lain bisa terbang.
Untuk itulah Indonesia membentuk Skadron Sukhoi.
"Ancaman yang dirasakan dari tindakan AS untuk memblokir suku cadang armada pada tahun 1990-an, yang terwujud pada tahun 1999 sebagai tanggapan atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia di Timor Timur Indonesia, membuat Jakarta melakukan diversifikasi armadanya dengan memperoleh Su-27 Rusia dan kemudian Pesawat tempur Su-30," jelas The Diplomat pada 12 Februari 2022.
Juga akuisisi paralel membuat Indonesia mempunyai komposisi jet tempur yang sesuai dengan anggarannya.
Kita semua tahu anggaran pertahanan Indonesia sangat pas alias mepet.
Pembelian sebuah alutsista meski dipikirkan secara masak supaya tak melenceng dari kebutuhan di lapangan.
Sekalian soal perawatan alutsista itu sendiri juga dipikirkan secara matang.
Baca Juga: F-15 Eagle II Indonesia Dirancang untuk Menghabisi Su-35 Rusia Sekalian J-10 China
"Mengakuisisi pesawat tempur Rusia dan Amerika secara paralel, yang pertama menyediakan lebih sedikit kelas berat elit dan yang terakhir menyediakan lebih banyak kelas berat ringan perawatan rendah, diharapkan terus membentuk rencana akuisisi Indonesia, dengan Su-35 berpotensi dilengkapi dengan F-16 Block 72 yang baru," jelasnya.
Cara Indonesia menghindari embargo seperti di atas memang unik.
Tapi sebetulnya pembelian alutsista dari beragam negara menimbulkan logistic nightmare alias kesulitan perawatan.
Dengan banyaknya sumber alutsista membuat Indonesia kesulitan mempertahankan tingkat readiness.
Jika sudah demikian maka yang terjadi malahan ketidakefektifan alutsista dalam menjalankan tupoksinya.
Selain itu juga akan menyedot anggaran lebih besar, misal Su-30 Indonesia jika ingin upgarde harus dikirim ke luar negeri dan biayanya amat mahal.
Sementara F-16 sudah bisa diupgrade sendiri oleh Indonesia.