Fenomena ini semakin memperlihatkan bahwa negara pembeli semakin menuntut kemandirian teknologi yang lebih besar daripada sebelumnya.
India Terhambat Isu Source Code
India menjadi salah satu negara yang paling sering dibahas dalam konteks peninjauan ulang Rafale.
New Delhi berencana membeli 114 unit Rafale tambahan untuk Angkatan Udara India di bawah program Multi-Role Fighter Aircraft.
Namun negosiasi menghadapi hambatan serius terkait akses source code perangkat lunak jet.
Prancis enggan membagikan kode sumber sementara India ingin integrasi penuh dengan senjata dan radar buatan sendiri.
Dikutip dari Eurasian Times, "Rafale Deal Faces New Turbulence! After UAE Exit & Indian Concerns, Indonesia Rules Out More Orders For French Jets", 17 April 2026, India mungkin mempertimbangkan kembali order besarnya karena isu source code.
Meski demikian pemerintah India terus melanjutkan proses akuisisi tersebut.
Rencana produksi lokal sebagian besar unit diharapkan mendukung ambisi Make in India.
Kendala teknologi ini mencerminkan keinginan India untuk kemandirian strategis yang lebih besar.
Situasi ini menunjukkan pola yang mirip dengan kekhawatiran negara lain.
UAE Mundur dari Pendanaan Rafale F5
Uni Emirat Arab menjadi contoh paling nyata dari hambatan yang dihadapi program Rafale.