Sedangkan Lockheed Martin selaku pembuat F-35 mengharuskan Indonesia membeli F-16 Block 72 Viper sebagai transisi sebelum mengoperasikan jet tempur siluman tersebut.
"APG-83 menyediakan F-16 Viper dengan kemampuan radar tempur Generasi ke-5 dengan memanfaatkan kesamaan perangkat keras dan perangkat lunak dengan radar AESA F-22 dan F-35," jelas lockheedmartin.com.
Sampai di sini jelas bahwa saat ini Indonesia hanya diizinkan membeli tiga jenis jet tempur dari AS sebelum beralih ke F-35.
Ketiganya ialah F-16 Viper, F-18 Super Hornet atau F-15 Eagle II.
Jika merunut rumus mendang-mending, Indonesia pasti memilih F-15 Eagle II sebagai jet tempur superioritas udaranya.
Sebab F-16 Viper terlalu riskan bila diajak duel dengan jet tempur China.
Sementara F-18 segera disuntik mati oleh Boeing.
Maka pilihan tepat memang F-15 dimana Boeing akan mengedepankan produksi Eagle II dan UCAV MQ-25 Stingray di masa depan.
"Dengan teknologi generasi mendatang yang memberikan kemampuan bertahan hidup yang lebih baik di spektrum lingkungan yang luas, kemampuan pelengkap F-15EX memungkinkan struktur kekuatan yang lebih seimbang yang akan tetap menjadi ancaman saat ini dan yang muncul selama beberapa dekade," jelas boeing.com.
Baca Juga: Aksi Berani Kapal Perang Indonesia Cegat Provokasi Portugal di Laut Timor Timur
Karena stop produksi lini F-18, maka Boeing akan memusatkan SDM nya membangun F-15 Eagle II.
Bahkan proses pengiriman ke negara pembeli akan lebih cepat lantaran tak ada lagi lini produksi bagi F-18.
"Unit yang dikonversi ke F-15EX dapat bertransisi dalam beberapa minggu atau bulan, bukan tahun, setelah menerima pesawat baru," bebernya.
China yang mengetahui program akuisisi F-15 Eagle II oleh Indonesia ikut bereaksi.
Hadirnya F-15 Eagle II akan mempersulit langkah China mengganggu Natuna Utara.