ZONAJAKARTA.com - Seandainya Indonesia diizinkan oleh AS untuk membeli F-35 maka Rafale jelas tak jadi diakuisisi.
Indonesia mengidamkan F-35 tapi ditolak AS dimana negeri ini langsung banting setir membeli Rafale.
Bagi Dassault Aviation, pembelian Rafale oleh Indonesia merupakan derap langkah penting mereka di Asia Pasifik untuk menandingi pasaran F-35.
Meski sama-sama anggota NATO, AS dan Prancis kerap tak akur soah penjualan alutsista.
Baca Juga: Rafale Indonesia dengan MBDA Meteor Adalah Game Changer Pertempuran
Contoh paling gress saat proyek kapal selam Suffren class Australia diserobot AS.
Prancis yang sudah lama melakukan lobi ke pemerintah Australia untuk transaksi Suffren class ditikung Washington dengan cara tak fair.
Prancis ngamuk mendapati hal ini dimana ia sampai menarik dubesnya dari AS dan Australia.
Di Eropa memang cuma perusahaan pertahanan Prancis yang jaya.
Prancis berani menentang AS karena kapabilitas industri pertahanannya sudah mandiri.
Misal dalam proyek Eurofighter Typhoon di masa lalu.
Awalnya Prancis ikut dalam proyek ini namun segera cabut usai ada satu dua friksi dengan Inggris dan Jerman soal teknologi yang akan dipasangka ke jet tempur tersebut.
Prancis cabut lalu membangun sendiri jet tempunrya yang melahirkan Rafale dan hasilnya saat ini laku keras dibanding Typhoon.
Bahkan untuk saat ini Prancis kembali menginisiasi pembuatan jet tempur generasi keenam yakni Future Combat Air System (FCAS) bersama Spanyol dan Jerman.