Sukses di Pasar Ekspor, Pesawat Tempur Rafale Laris Malah Jadi Pisau Bermata Dua Bagi Angkatan Udara Prancis

photo author
Nika Wahyu, Zona Jakarta
- Sabtu, 8 April 2023 | 18:15 WIB
Rafale milik Indonesia kemungkinan besar mampu tembakkan BrahMos (Dassault Aviation)
Rafale milik Indonesia kemungkinan besar mampu tembakkan BrahMos (Dassault Aviation)

ZONAJAKARTA.COMPesawat tempur Rafale dari Prancis mencapai kesuksesan beberapa tahun terakhir.

Kesuksesan pesawat tempur Rafale di pasar internasional justru menjadi pisau bermata dua bagi Prancis.

Ekspor pesawat tempur Rafale yang cetak keberhasilan beberapa tahun terakhir menimbulkan masalah bagi Angkatan Udara Prancis.

Baca Juga: Samsung Galaxy S22 Ultra 5G Sudah Turun Harga Rp3,5 Juta, Berikut Speknya yang Cocok Dibeli Lebaran Tahun Ini

Pasalnya, pilot Angkatan Udara Prancis mengeluh bahwa jam terbang mereka dengan pesawat tempur generasi 4,5 itu berkurang sehingga merugikan efisiensi mereka.

Bahkan minimnya jam terbang yang dialami pilot Rafale lebih rendah dari level yang ditetapkan NATO.

Dalam sebuah laporan ke Parlemen Prancis, pilot Angkatan Udara Rafale diharapkan hanya menerbangkan pesawat selama 147 jam pada tahun 2023.

Baca Juga: iPhone 15 Punya Layar Beda dari iPhone 14, Ini Bocoran Spek iPhone 15 Plus, iPhone 15 Pro & iPhone 15 Pro Max

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan 162 jam yang tercatat tahun lalu.

Dilansir dari Defence Security Asia, hal tersebut tidak memenuhi standar yang digariskan oleh NATO yang mensyaratkan setiap penerbang pesawat tempur negara-negara aliansi militer harus menerbangkan pesawat tempur tersebut selama 180 jam dalam setahun untuk mempertahankan tingkat kompetensinya.

Anggota parlemen Prancis Frank Giletti, yang menyiapkan laporan tersebut, mengatakan kurangnya jam terbang yang dialami pilot Rafale Angkatan Udara Prancis membahayakan negara.

Baca Juga: iPhone SE 4 Bakal Jadi Ponsel Modifikasi iPhone 14? Beredar Bocoran Spesifikasinya yang Gahar

Pasalnya, pada saat lingkungan strategis internasional mengharuskan pilot pesawat tempur Prancis berada di tingkat kesiapan tertinggi dan selalu siap.

Kementerian Angkatan Bersenjata Prancis dalam reaksinya atas laporan Giletti mengatakan, minimnya jam terbang yang dialami pilot Rafale disebabkan minimnya pesawat tempur yang dikembangkan perusahaan Dassault Aviation di angkatan udara negara Eropa itu.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Nika Wahyu

Sumber: Defence Security Asia, SLASHGEAR

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X