ZONAJAKARTA.COM - Pesawat tempur Rafale dari Prancis mencapai kesuksesan beberapa tahun terakhir.
Kesuksesan pesawat tempur Rafale di pasar internasional justru menjadi pisau bermata dua bagi Prancis.
Ekspor pesawat tempur Rafale yang cetak keberhasilan beberapa tahun terakhir menimbulkan masalah bagi Angkatan Udara Prancis.
Pasalnya, pilot Angkatan Udara Prancis mengeluh bahwa jam terbang mereka dengan pesawat tempur generasi 4,5 itu berkurang sehingga merugikan efisiensi mereka.
Bahkan minimnya jam terbang yang dialami pilot Rafale lebih rendah dari level yang ditetapkan NATO.
Dalam sebuah laporan ke Parlemen Prancis, pilot Angkatan Udara Rafale diharapkan hanya menerbangkan pesawat selama 147 jam pada tahun 2023.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan 162 jam yang tercatat tahun lalu.
Dilansir dari Defence Security Asia, hal tersebut tidak memenuhi standar yang digariskan oleh NATO yang mensyaratkan setiap penerbang pesawat tempur negara-negara aliansi militer harus menerbangkan pesawat tempur tersebut selama 180 jam dalam setahun untuk mempertahankan tingkat kompetensinya.
Anggota parlemen Prancis Frank Giletti, yang menyiapkan laporan tersebut, mengatakan kurangnya jam terbang yang dialami pilot Rafale Angkatan Udara Prancis membahayakan negara.
Baca Juga: iPhone SE 4 Bakal Jadi Ponsel Modifikasi iPhone 14? Beredar Bocoran Spesifikasinya yang Gahar
Pasalnya, pada saat lingkungan strategis internasional mengharuskan pilot pesawat tempur Prancis berada di tingkat kesiapan tertinggi dan selalu siap.
Kementerian Angkatan Bersenjata Prancis dalam reaksinya atas laporan Giletti mengatakan, minimnya jam terbang yang dialami pilot Rafale disebabkan minimnya pesawat tempur yang dikembangkan perusahaan Dassault Aviation di angkatan udara negara Eropa itu.