"Jadi ketika di tahun 2019, saya diajak untuk menjadi wakil, pasangannya Pak Prabowo, saya sampaikan juga kepada beliau, Pak Prabowo terima kasih atas undangannya, ini sebuah kehormatan tetapi saya punya komitmen untuk menyelesaikan di Jakarta selama 5 tahun. Jadi saya rasa itu," tegas Anies.
Lebih lanjut, Anies menambahkan penolakan untuk maju di Pilpres 2019 juga dengan mempertimbangkan janji-janjinya dengan warga Jakarta selama masa kampanye.
"Memang kuncinya adalah menyelesaikan janji dengan warga Jakarta. Karena janji saya dengan warga Jakarta banyak. Saya tanda tangan tuh kontrak politik dengan rakyat miskin kota, dengan kampung akuarium, dengan masyarakat kaki lima. Itu semua janji janji yang saya harus tunaikan."
"Apa yang harus saya sampaikan kepada mereka? kalau setelah saya setahun saya pergi, kemudian nanti mereka tidak lagi percaya kepada proses demokrasi. Karena yang bertanda tangan mengikuti pemilu begitu saja meninggalkan," jelasnya.
Karena itu, Anies pun mengingat bahwa perjanjian politik yang dibahasnya dengan Prabowo Subianto juga tidak terlalu spesifik. Khususnya terkait larangan dirinya untuk menjadi calon presiden.
"Memang ketika ngobrol itu tidak menyebut tahun, misal saya berjanji... Nggak, saya berjanji 5 tahun. tidak ada menyebut 5 tahun sampai 2022, kemudian tidak akan ikut satu dua. Kira-kira nggak begit lah," tukasnya. ***