ZONAJAKARTA.COM - Konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung selama lebih dari satu bulan akhirnya memasuki fase jeda setelah kedua pihak sepakat melakukan gencatan senjata.
Namun di balik keputusan tersebut, muncul pertanyaan besar.
Apakah perang ini benar-benar memberikan hasil strategis, atau justru menjadi contoh mahalnya operasi militer tanpa hasil yang jelas.
Banyak analis menilai, meskipun kekuatan militer AS sangat superior, perang ini justru menunjukkan bahwa penggunaan alutsista modern belum tentu menjamin kemenangan yang efektif secara strategis.
Dikutip dari 19fortyfive edisi Jumat, 10 April 2026 berjudul "The Iran War Now Looks Like a Historic Waste of Bombs, Billions of Dollars and Tomahawks."
Kesepakatan gencatan senjata selama 14 hari yang dicapai pada 7 April 2026 menjadi titik balik penting dalam konflik ini.
Selama 40 hari sebelumnya, perang berisiko meluas menjadi konflik regional besar, bahkan membuka kemungkinan pengerahan pasukan darat.
Salah satu dampak paling terasa dari kesepakatan ini adalah dibukanya kembali Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia.
Harga minyak global pun langsung turun, menandakan betapa besarnya pengaruh konflik ini terhadap ekonomi internasional.
Namun menariknya, kedua pihak sama-sama mengklaim kemenangan.
Situasi ini justru memperlihatkan bahwa tidak ada hasil mutlak yang benar-benar dicapai.
Dikutip dari The Conversation edisi Jumat, 10 April 2026 berjudul "US ceasefire with Iran: What's next? A former diplomat explains 3 possible scenarios."
Baca Juga: Lockheed Martin Beri Bocoran Potensi Penjualan F-35 ke India, Semua Bergantung Sinyal dari AS