Su-57E berdiri di kutub yang berbeda. Jet bermesin ganda ini dirancang untuk kecepatan tinggi, kelincahan di udara, dan daya tembak jarak jauh.
Menurut catatan Defence Security Asia 18 Januari 2026 "Su-57E vs F-22 vs F-35: Why True Fifth-Generation Combat Effectiveness Is Defined by Balance, Not Isolated Superiority", Su-57E dikembangkan dengan pendekatan keseimbangan antara stealth, kecepatan supersonik, kemampuan manuver, dan fleksibilitas senjata, bukan dengan mengorbankan satu aspek demi aspek lainnya.
Su-57E juga diklaim mampu membawa rudal hipersonik dengan jangkauan hingga ratusan kilometer, sesuatu yang tidak bisa dilakukan F-35 dalam konfigurasi standar.
Satu perbedaan yang sering disorot adalah harga.
F-35A diperkirakan seharga sekitar USD 82,5 juta per unit, sementara Su-57E berada di kisaran USD 35–50 juta, separuh lebih murah meski angka pastinya sulit dikonfirmasi karena volume produksi Rusia yang masih terbatas.
Indonesia Masuk Radar Rosoboronexport
Di sinilah bagian yang menarik perhatian.
Berdasarkan laporan militarnyi 15 April 2026 "Russia Announces New Export Contracts for Su-57E Fighter Jets", calon pembeli potensial Su-57E mencakup India dan negara-negara Asia Tenggara dengan Malaysia dan Indonesia secara eksplisit disebutkan sebagai pasar yang diincar Rusia.
Indonesia bukan nama baru dalam konteks jet tempur Rusia.
TNI AU saat ini mengoperasikan Su-27SK dan Su-30MK2 sebagai tulang punggung kekuatan udaranya.
Kesamaan ekosistem teknis dengan keluarga Sukhoi mulai dari infrastruktur perawatan hingga sistem persenjataan menjadi salah satu faktor yang membuat Su-57E berpotensi masuk dalam pertimbangan modernisasi kekuatan udara di masa mendatang.
Namun sejauh ini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Indonesia maupun Kementerian Pertahanan mengenai rencana akuisisi Su-57E.
Mengapa Banyak Negara Tidak Bisa atau Tidak Mau Beli F-35?