Sebagaimana data Defence Security Asia "UAE Walks Away From Rafale F5: France Forced to Fund €5 Billion ‘Super Rafale’ Alone as Europe’s Future Fighter Strategy Enters Crisis" 3 April 2026, perencana pertahanan Prancis membayangkan drone ini berperan sebagai sensor depan, platform perang elektronik, umpan, sekaligus pembawa senjata yang mendukung Rafale F5 yang memungkinkan risiko ditanggung lebih dulu oleh platform tak berawak, bukan pilotnya.
Rafale F5 sendiri akan mendapat sejumlah peningkatan besar mulai dari radar gallium nitride Thales RBE2 XG, sistem perang elektronik SPECTRA yang diperbarui, tangki bahan bakar conformal, dan mesin Safran M88 T-REX dengan daya dorong 20 persen lebih besar dari versi saat ini.
Doktrin Baru: Pilot Bukan Lagi Sekadar Penerbang
Pergeseran ini bukan hanya soal senjata baru. Ini soal cara bertempur yang berbeda.
Diberitakan Naval News 27 Maret 2026 "STRATUS program to enter development phase imminently – MBDA's CEO", STRATUS dalam konteks Rafale F5 dirancang sebagai bagian dari jaringan tembak terintegrasi, bukan sekadar peluru tambahan di sayap pesawat.
Dalam doktrin baru ini, pilot Rafale F5 tidak lagi hanya terbang dan menembak. Mereka akan mengawasi drone pendamping, memadukan data dari berbagai sensor, dan membuat keputusan dalam tempo yang jauh lebih cepat di ruang udara yang penuh gangguan elektronik dan ancaman jarak jauh.
CEO Dassault Aviation Eric Trappier pernah menyebut UCAS ini akan "berkontribusi pada superioritas teknologi dan operasional Angkatan Udara Prancis pada 2033", sebagaimana dicatat The Aviationist "France Announces Development of Rafale F5 With New UCAV And Nuclear Missile" 10 Oktober 2024.
Targetnya jelas, membangun sistem tempur udara berdaulat yang bisa bertahan dan menang di lingkungan yang paling dikontestasi tanpa bergantung pada pihak lain.***