Sistem ini dilengkapi sensor electro-optical untuk deteksi otomatis ancaman, stabilisasi gimbal agar tetap akurat di laut bergelombang, serta kemampuan merekam audio dan video.
Dikutip dari Janes, "Philippines equips Rajah Sulayman-class OPV with acoustic device", 4 Maret 2026, Sitep Italia mengonfirmasi pasokan MASS SX-424(V)122 yang disesuaikan untuk kebutuhan Philippine Navy.
Rencana ekspansi ke kapal patroli lain di armada Filipina menunjukkan komitmen memperkuat kemampuan counter gray zone.
TNI AL Indonesia Sudah Lebih Dulu Mengadopsi Teknologi Serupa
Indonesia melalui TNI Angkatan Laut juga telah memasang sistem yang identik di kapal modernnya.
KRI Brawijaya-320, kapal patroli lepas pantai kelas Thaon di Revel buatan Fincantieri Italia, dilengkapi Sitep Italia MASS SX-424.
Sistem ini terpasang sebagai bagian dari paket persenjataan non-lethal untuk menghadapi ancaman asimetris di perairan Indonesia yang luas.
Kedua kapal kelas Brawijaya, termasuk KRI Prabu Siliwangi-321, dirancang dengan kemampuan multirole yang tinggi, termasuk patroli, pertahanan maritim, dan operasi kemanusiaan.
Dengan bobot lebih besar dan teknologi cockpit nave ala pesawat tempur, KRI Brawijaya menawarkan platform yang lebih advanced dibandingkan OPV Filipina.
Baca Juga: Senator Filipina Desak Presiden Ferdinand Marcos Jr segera Klaim Sabah, Malaysia Auto Ngamuk-Ngamuk!
Perbandingan Strategi Pertahanan Maritim Dua Negara Tetangga
Filipina lebih vokal mempublikasikan pemasangan MASS sebagai respons langsung terhadap insiden di West Philippine Sea.
Sementara Indonesia cenderung mengintegrasikan teknologi ini secara lebih senyap sebagai bagian dari modernisasi armada yang lebih luas.
Keduanya menggunakan produk Sitep Italia yang sama, menunjukkan tren regional dalam mengadopsi senjata non-lethal untuk menghindari eskalasi yang tidak diinginkan.