Internasional

Rafale yang Diborong Indonesia Bikin AU Negeri Menara Eiffel Dalam Bahaya, WAKASAU Prancis: Kritis!

Sabtu, 8 April 2023 | 11:55 WIB
Rafale yang Diborong Indonesia Bikin AU Negeri Menara Eiffel Dalam Bahaya, WAKASAU Prancis: Kritis!

Zonajakarta.com- Indonesia telah mengaktifkan 6 dari 42 kontrak pembelian jet tempur Rafale pada 10 Februari 2022 lalu.

Setelah kontrak ditandatangani, KASAU Indonesia Fadjar Prasetyo yang merupakan pemimpin tertinggi TNI AU sempat menyebut soal pengiriman pilot ke Prancis guna mempelajari pengoperasian jet tempur Rafale yang dibeli NKRI.

TNI AU sendiri sudah mengumumkan varian jet tempur Rafale yang akan dibeli Indonesia dari Prancis.

Panglima Komando Operasi Udara III, Marsekal Muda TNI Samsul Rizal tegas menyatakan bahwa pembelian alutsista terbaru TNI AU, yaitu jet tempur Rafale F3R dan negosiasi lanjutan tentang F-15IDN sangat penting bagi pertahanan udara Indonesia secara keseluruhan.

Dalam Seminar Internasional Air Power: "Pembangunan Kekuatan Udara Nasional Untuk Menghadapi Ancaman Pada Era Perang Generasi Ke-5", Marsma Samsul Rizal juga membocorkan spesifikasi dan kemampuan unggul yang akan disematkan pada F-15IDN.

Baca Juga: Pilot KF-21 Boramae Indonesia Bukan Orang Sembarangan, Ini 2 Penerbang yang TNI AU Kirim ke Korea Selatan

"Beberapa pihak masih mempertanyakan apakah pembelian alutsista punya nilai penting untuk negara? Tentu sangat penting," ucap Marsma Samsul Rizal.

Samsul Rizal mengakui bahwa saat ini, Indonesia bukanlah negara kaya raya yang bisa membeli berbagai jenis alutsista termutakhir karena adanya keterbatasan anggaran.

Namun, TNI AU dan pihak yang terkait menyiasati hal tersebut dengan membeli alutsista dengan harga lebih terjangkau tapi punya kemampuan unggul yang bisa digunakan untuk menghadapi ancaman.

Salah satunya adalah pembelian pesawat tempur Rafale F3R yang merupakan generasi 4.5 tetapi bukan yang paling mahal di kelasnya dan tetap bisa diandalkan.

Karena kesuksesan jet tempur Rafale di pasar internasional, para pilot jet tempur di Angkatan Udara Prancis kini dihadapkan pada masalah kurangnya jam terbang sehingga tidak memenuhi standar yang ditetapkan NATO.

Baca Juga: China Sesumbar Melatih Pilot Su-30 TNI AU Indonesia, Tiongkok: Lebih Baik dari Rusia!

Dikutip dari Defence Security Asia, bahkan minimnya jam terbang yang dialami pilot pesawat tempur Rafale lebih rendah dari level yang ditetapkan NATO.

Dalam sebuah laporan ke Parlemen Prancis, pilot Rafale angkatan udara negara itu diharapkan hanya menerbangkan pesawat selama 147 jam pada tahun 2023 dibandingkan dengan 162 jam yang tercatat tahun 2022 lalu.

Hal tersebut tidak memenuhi standar yang digariskan oleh NATO yang mensyaratkan setiap penerbang pesawat tempur negara-negara aliansi militer tersebut harus menerbangkan pesawat tempur tersebut selama 180 jam dalam setahun untuk mempertahankan tingkat kompetensinya.

Anggota parlemen Prancis Frank Giletti, yang menyiapkan laporan tersebut, mengatakan kurangnya jam terbang yang dialami pilot pesawat Rafale Angkatan Udara Prancis membahayakan negara, pada saat lingkungan strategis internasional mengharuskan pilot pesawat tempur negara itu berada di tingkat kesiapan tertinggi dan selalu siap.

Kementerian Angkatan Bersenjata Prancis dalam reaksinya atas laporan Giletti mengatakan, minimnya jam terbang yang dialami pilot Rafale disebabkan minimnya pesawat tempur yang dikembangkan perusahaan Dassault Aviation di angkatan udara negara Eropa itu.

Baca Juga: Diberi Baret Jingga, Prabowo Subianto Resmi Jadi Warga Kehormatan Kopasgat TNI AU, Menhan Janji Jaga Hal Ini

Tak cuma karena ekspor Rafale baru ke berbagai negara termasuk Indonesia.

November tahun 2022 lalu, pemerintah Kroasia menandatangani kesepakatan senilai US$1,1 miliar (RM4,4 miliar) dengan Prancis untuk membeli 12 jet tempur Rafale F-3R berusia 14 tahun yang masih digunakan oleh Angkatan Udara Prancis.

12 buah pesawat pejuang terpakai Rafale itu akan diserahkan kepada Croatia pada tahun 2024 mendatang.

Untuk menggantikan 24 pesawat tempur Rafale Angkatan Udara Prancis yang "hilang" ke Yunani dan Kroasia, Kementerian Angkatan Bersenjata negara itu diperkirakan akan membeli 40 pesawat Rafale modern, F4, tahun depan.

Ditambah, Dassault Aviation yang banjir pesanan Rafale dari UEA hingga Indonesia terpaksa harus membuat antrian panjang bagi calon pembelinya.

Media Prancis Avionslegendaires.net rupanya sempat dibuat cemas dengan langkah Indonesia yang memborong 42 unit jet tempur Rafale.

Baca Juga: Pesawat Bekas Qatar Mirage 2000-5 Masih Bisa Dibeli? Menhan Indonesia Kasih Kode Begini di Depan TNI AU

Dimana, 6 unit pertama jet tempur Rafale akan segera dikirimkan ke Indonesia.

Bukan tanpa sebab, rupanya jet tempur Rafale yang sudah terlanjur diborong Indonesia, membuat Angkatan Udara (AU) Prancis bingung mau pakai armada apa.

"Apakah pengiriman enam pesawat pertama tidak akan merugikan Angkatan Udara dan Luar Angkasa Prancis, yang juga sangat membutuhkan pesawat baru.

Semakin banyak kontrak yang mengikuti satu sama lain, semakin banyak penerbangan militer Prancis tampaknya telah menjadi semacam variabel penyesuaian bagi pemodal dan produsen.

Halaman:

Tags

Terkini