ZONAJAKARTA.com - Tim penyelamat di Turki selatan memperingatkan upaya untuk menemukan korban gempa mengalami hambatan karena pecahnya kekerasan, setelah jumlah korban tewas di Suriah dan Turki melewati 28.000.
Dikutip dari The Guardian pada Minggu (12/2/2023) tim penyelamat Jerman dan tentara Austria menghentikan operasi pencarian pada hari Sabtu, dengan alasan perkelahian antara kelompok tak dikenal.
Seorang juru bicara militer Austria mengatakan perselisihan antara kelompok-kelompok di provinsi Hatay mengakibatkan puluhan personel dari Unit Penanggulangan Bencana Pasukan Austria mencari perlindungan di sebuah base camp dengan organisasi internasional lainnya, BBC melaporkan.
Baca Juga: Seekor Kucing Berhasil Menyelamatkan Pemiliknya dari Reruntuhan Gempa yang Mengguncang Turki
Seorang pria berusia 33 tahun diselamatkan dari reruntuhan 132 jam setelah gempa bumi melanda Hatay, Turki.
Letnan Kolonel Pierre Kugelweis mengatakan dalam sebuah pernyataan, “Ada peningkatan agresi antar faksi di Turki. Peluang untuk menyelamatkan nyawa tidak memiliki hubungan yang masuk akal dengan risiko keselamatan.”
Austria melanjutkan operasi penyelamatannya setelah tentara Turki turun tangan untuk menawarkan perlindungan, kata Kementerian Pertahanan negara itu.
Baca Juga: Jawaban Cerdas Wapres Ma'ruf Amin Terkait Isu Childfree: Esensi Nikah Itu Membuat Keturunan
Cabang Jerman dari kelompok pencarian dan penyelamatan Isar dan Badan Bantuan Teknis Jerman (TSW) juga menghentikan operasi, dengan alasan masalah keamanan.
Juru bicara Isar Stefan Heine mengatakan, "Ada semakin banyak laporan bentrokan antara faksi yang berbeda, tembakan juga telah dilepaskan."
Steven Bayer, manajer operasi Isar, mengatakan dia memperkirakan keamanan akan memburuk karena persediaan makanan dan air semakin langka.
Dia menambahkan, "Kami mengawasi situasi keamanan dengan sangat cermat seiring perkembangannya."
Tim penyelamat Jerman mengatakan mereka akan melanjutkan pekerjaan segera setelah pihak berwenang Turki menganggap situasi aman, lapor Reuters.