ZONAJAKARTA.COM- Dalam dunia militer, drone Kamikaze juga dikenal sebagai amunisi berkeliran alias drone bunuh diri.
Dikutip Zonajakarta.com dari Mars.com, Drone Kamikase mirip dengan rudal presisi dan Sistem Udara Tak Berawak (UAS), tetapi dengan beberapa perbedaan yang jelas.
Tidak seperti rudal, drone kamikaze mampu menempati wilayah udara yang dikenal sebagai berkeliaran untuk jangka waktu yang relatif lama sebelum menyerang sasaran.
Sistem ini mungkin juga dilengkapi hulu ledak, atau muatan, yang dimaksudkan untuk meledak selama pertempuran.
Meskipun amunisi yang berkeliaran membawa hulu ledak yang lebih kecil daripada rudal presisi, mereka mampu menghindari deteksi radar karena ukurannya yang kecil dan kelincahan terbangnya.
Mereka juga dapat dikerahkan dalam formasi “gerombolan”, yang dengan cepat membanjiri pertahanan udara dan menghabiskan persediaan tindakan penanggulangan, sehingga mengakibatkan biaya per pembunuhan yang tinggi.
Drone Kamikaze lebih rentan terhadap beberapa sistem pertahanan dibandingkan rudal presisi, karena drone tersebut bergerak dengan kecepatan lebih rendah.
Namun, di arena baru-baru ini, lebih dari 30 persen kawanan serangga berhasil lolos dari pertahanan udara tradisional.
Marss.com menyebut jika teknologi pertahanan udara tradisional termasuk Iron Dome di Israel dan sistem Sky Sabre dan Starstreak milik Militer Inggris sudah digunakan untuk melindungi terhadap beberapa drone kamikaze dan ancaman UAS lainnya.
Rudal pertahanan baik yang dikerahkan dari jet tempur atau lokasi tetap juga merupakan tindakan balasan yang efektif.
Namun, rudal pertahanan sangatlah mahal, harganya berkali-kali lipat lebih besar daripada nilai ancamannya, sementara rudal anti-pesawat mempunyai potensi besar menimbulkan kerusakan tambahan jika digunakan di area yang dibangun.
Drone Kamikaze yang jadi musuh besar Iron Dome Israel, rupanya tengah dikembangkan TNI AL Indonesia dalam versi maritime.
Artikel Selanjutnya
KASAL Blak-blakan TNI AL Baru Punya 4 Kapal Selam Padahal Idealnya 12 Buat Jaga Keamanan Laut Indonesia
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.
Sumber: Dispenal, marss.com