Selama pengujian itu pula, prototipe KF-21 Boramae telah terbukti mampu terbang supersonik, lincah bermanuver di berbagai sudut ekstrem, radarnya efektif, dan senjatanya terintegrasi dengan baik.
Jet Tempur buatan Korea Selatan dan Indonesia
Sebagai pengingat, KF-21 Boramae adalah program jet tempur Korea Selatan yang diumumkan pada tahun 2001 lalu.
Maksud dari pembentukan KF-21 Boramae adalah upaya Korea Selatan menggantikan armada jet tempurnya yang sudah menua.
Pengembangan pun dimulai di tahun 2010, bersamaan dengan datangnya Indonesia sebagai mitra.
Salah satu kehadiran Indonesia adalah untuk menanggung beban biaya pengembangan jet tempur.
Baca Juga: Korea Selatan minta Indonesia Lunasi dulu Hutangnya sebelum Transfer Prototipe KF-21 Boramae
Menurut kesepakatan akhir, Indonesia perlu mengeluarkan kontribusi sebesar 600 Won dalam megaproyek ini.
“Pada 10 Juni 2025, Korea Selatan dan Indonesia telah menyelesaikan perjanjian revisi yang menyesuaikan kontribusi finansial Jakarta terhadap program KF-21 Boramae. Kontrak yang diperbarui adalah pengurangan porsi Indonesia dari 1,6 triliun Won menjadi 600 miliar Won”, tulis Army Recognition (14/6/25) dalam artikel “IndoDefense 2025: Indonesia and South Korea sign new deal for delivery of 48 KF-21 jets and preservation of joint production”.
Timbal Balik untuk Indonesia
Dari uang yang Indonesia keluarkan, Jakarta mendapat akses terhadap teknologi jet tempur canggih.
“Indonesia juga kirim 37 Engineer PTDI serta 2 Pilot Test untuk mengikuti partisipasi di Korea Aerospace Industries (KAI) Korsel”, ucap Wakil Menteri Pertahanan, M. Herindra, dikutip di laman Kemhan RI (7/2/23) dalam artikel “Wamenhan M. Herindra Terima Deputi Bidang Kemampuan Maju Program DAPA, Tegaskan Komitmen RI Lanjutkan Program KF-X/IF-X”.
Baca Juga: Nasib KF-21 Boramae Terungkap, Presiden Prabowo akan Kirim Tim Khusus ke Korea Selatan
Pilot Indonesia nyatanya juga beberapa kesempatan dilibatkan dalam uji terbang KF-21 Boramae. Seperti uji terbang pada awal Oktober 2025, Kolonel Pnb Mohammad Sugiyanto menerbangkan jet tempur itu di ketinggian 10.000-20.000 kaki.
“Kerja sama pertahanan Indonesia-Korea Selatan kembali mencatat tonggak penting. Pnb Mohammad Sugiyanto, pilot uji TNI AU dengan callsign Mammoth sukses menjalani uji terbang perdana sebagai front seater (kursi depan) pada prototipe pesawat tempur generasi 4,5 KF-21 Boramae, Selasa (30/9/25) di Sacheon, Korea Selatan. Dalam misi berdurasi 1 jam, Mammoth melaksanakan pengujian performa serta aspek Stability & Control pada ketinggian 10.000 hingga 20.000 kaki, didampingi pilot uji Korea Aerospace Industries (KAI), Koh Hwi Seok”, jelas TNI AU di Instagramnya (2/10/25).