Rumor Penambahan Rafale Indonesia Ingatkan Penelitian UMY Soal Potensi ToT yang Saat Ini Justru Jadi Paradoks

photo author
Rizqi Arie Harnoko, Zona Jakarta
- Sabtu, 18 April 2026 | 06:27 WIB
Indonesia diyakini UMY dalam penelitiannya bisa peroleh ToT Rafale penuh jika menambah armadanya.  (Tangkap Layar YouTube.com/Haci Productions)
Indonesia diyakini UMY dalam penelitiannya bisa peroleh ToT Rafale penuh jika menambah armadanya. (Tangkap Layar YouTube.com/Haci Productions)

Sampai dengan sekarang, fokus utama Indonesia terhadap Rafale lebih dipusatkan pada proses pengiriman 42 unit yang sudah lebih dulu dipesan dan terbayar lunas.

Apalagi enam unit di antaranya telah tiba di tanah air sejak akhir Januari 2026, dan enam unit berikutnya diperkirakan menyusul paling lambat Juni 2026 mendatang.

Sementara 36 unit lainnya dijadwalkan bakal dikirim pada tahun 2027 hingga awal 2028.

Lalu ketika Presiden RI Prabowo Subianto bertemu dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Selasa, 14 April 2026, rumor penambahan jumlah armada Rafale kembali mencuat.

Spekulasi mengenai jumlahnya pun kembali dihembuskan oleh media asal Paris bernama La Tribune dalam sebuah pemberitaannya.

"Presiden Macron yang akan menerima Presiden Indonesia di Istana Élysée pada hari Selasa akan membahas penjualan baru jet tempur Rafale dari Dassault Aviation antara 18-24 pesawat," demikian narasi artikel berjudul "Le Rafale au menu des discussions entre Macron et le président indonésien Prabowo" yang dimuat oleh laman La Tribune edisi Selasa, 14 April 2026.

Baca Juga: UPDATE! Kemhan RI Sebut Pemerintah Pertimbangkan Tambah Batch Rafale pasca Pertemuan Prabowo-Macron di Paris

UMY Bicara Kaitan Penambahan Rafale dengan ToT

Terkait penambahan jumlah armada Rafale, UMY dalam penelitiannya kerap mengaitkan hal ini dengan benefit berupa transfer teknologi.

Indonesia disebut-sebut harus memiliki setidaknya 100 unit pesawat apabila ingin memperoleh benefit itu secara maksimal.

"Transfer Teknologi pesawat tempur Dassault Rafale belum 100 persen jika dibandingkan dengan KFX/IFX 21 Boramae. Beberapa persyaratan harus dipenuhi Indonesia, salah satunya dengan pembelian minimal 100 unit pesawat tempur Dassault Rafale," demikian bunyi jurnal penelitian UMY terbitan Januari 2024 berjudul "MOTIVASI INDONESIA DALAM PENGADAAN ALUTSISTA ERA PEMERINTAHAN PRESIDEN JOKO WIDODO (STUDI KASUS: PEMBELIAN PESAWAT TEMPUR DASSAULT RAFALE DARI PERANCIS TAHUN 2022)".

ToT sendiri memang menjadi aspek yang NKRI butuhkan sejak awal membeli Rafale.

Pasalnya PT Dirgantara Indonesia (PTDI) juga memiliki ambisi untuk menciptakan jet tempur canggih secara mandiri di masa mendatang, seiring dengan visi Indonesia Emas 2045 yang dicanangkan pemerintah.

Hal itu pula yang mendorong India berniat untuk memborong 114 unit Rafale tambahan, dengan skema rincian 90 unit untuk varian F4 dan 24 unit untuk varian F5.

Sebab mereka selama ini cenderung mengandalkan varian F3 yang dibeli pada tahun 2016 silam, serta baru saja membeli 26 unit Rafale Marine pada tahun 2025 untuk kebutuhan operasional dari kapal induk.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Rizqi Arie Harnoko

Sumber: UMY, Eurasian Times, La Tribune, Defence Industry Europe

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X