Rumor Penambahan Rafale Indonesia Ingatkan Penelitian UMY Soal Potensi ToT yang Saat Ini Justru Jadi Paradoks

photo author
Rizqi Arie Harnoko, Zona Jakarta
- Sabtu, 18 April 2026 | 06:27 WIB
Indonesia diyakini UMY dalam penelitiannya bisa peroleh ToT Rafale penuh jika menambah armadanya.  (Tangkap Layar YouTube.com/Haci Productions)
Indonesia diyakini UMY dalam penelitiannya bisa peroleh ToT Rafale penuh jika menambah armadanya. (Tangkap Layar YouTube.com/Haci Productions)

Gatekeeping Source Code: Batu Sandungan untuk ToT Paripurna

Belakangan, keengganan Prancis untuk berbagi source code Rafale menjadi batu sandungan bagi sejumlah negara pengimpor.

Dalih "kedaulatan teknologi" menjadi alasan utama, mengingat dari situlah Dassault Aviation memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan kompetitor terdekatnya di Eropa yakni Airbus.

Penolakan Paris untuk membagikan source code membuat India yang nyaris mencapai kesepakatan merasa gerah.

Melansir laman Eurasian Times melalui artikel berjudul "Software Crisis Threatens Rafale Deal: India Pays 100% But Gets Only 60% of the French Fighter: OPED", hal ini membuat Negeri Bollywood itu tak bisa bebas mengintegrasikan pesawat yang mereka beli dengan persenjataan yang mereka miliki termasuk produk buatan sendiri.

Bagi New Delhi, kebijakan tersebut tak sebanding dengan uang yang harus mereka bayarkan sementara benefit ToT yang diperoleh hanya 60 persen saja.

Sementara kebutuhan tempur Angkatan Udara India (IAF) tak selalu berpatokan dengan Original Equipment Manufacturer (OEM), yang sekaligus mempertegas posisi negara tersebut untuk mengupayakan swasembada alutsista dalam jangka panjang.

Baca Juga: Bikin Pertahanan Udara Musuh Bertekuk Lutut, Prancis Tak Hilang Akal Bekali Rafale F5 dengan Rudal Supersonik

Kasus serupa juga turut dirasakan oleh Uni Emirat Arab (UEA) yang sudah lebih dulu memesan 80 unit Rafale F4 mendahului Indonesia.

Mereka tiba-tiba mendadak mundur dari program Rafale F5 atau yang disebut juga dengan nama "Super Rafale".

Dari sisi kontribusi yang hendak Abu Dhabi tawarkan, mereka menyodorkan 3,5 miliar euro dari total nilai proyek yakni 5 miliar euro.

Artinya mereka berani untuk membayar lebih mahal dari Prancis.

Namun berdasarkan informasi dari artikel berjudul "France’s Tech Sovereignty Backfires? UAE Exits Rafale F5, India Blocked on Codes, Germany Frustrated with FCAS" yang dimuat oleh laman Eurasian Times edisi Selasa, 7 April 2026, kondisi ini berpotensi menambah beban APBN bagi Paris.

Dampaknya bukan hanya untuk pengembangan Rafale F5 semata.

Tetapi juga Future Combat Air Systems (FCAS) yang terancam di ujung tanduk seiring dengan kabar keretakan hubungan antara Prancis dan Jerman.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Rizqi Arie Harnoko

Sumber: UMY, Eurasian Times, La Tribune, Defence Industry Europe

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X