internasional

Perang Iran Jadi Bukti Sejarah Bagaimana AS Cuma Bakar Duit Karena Alutsista yang Digunakan Tak Berbuah Hasil

Jumat, 17 April 2026 | 06:17 WIB
Perang Iran disebut jadi bukti sejarah bahwa AS telah kehilangan banyak uang karena penggunaan alutsista.

Pendekatan ini terbukti cukup efektif untuk bertahan, bahkan di tengah serangan intensif dari militer AS.

Hal ini menunjukkan bahwa dalam perang modern, kekuatan tidak selalu ditentukan oleh teknologi tercanggih, tetapi juga oleh strategi yang adaptif.

Selama konflik berlangsung, risiko eskalasi terus meningkat.

Bahkan sempat muncul rencana untuk menguasai Pulau Kharg, yang berpotensi membuka babak baru berupa perang darat.

Jika skenario ini terjadi, konflik diprediksi akan berubah menjadi perang jangka panjang seperti yang pernah dialami AS di Timur Tengah sebelumnya.

Baca Juga: Indonesia Diuntungkan, Inggris Danai Penuh Sistem Penyelamat Kapal Selam Super Canggih untuk TNI AL

Hal inilah yang membuat gencatan senjata dianggap sebagai langkah realistis untuk menghindari situasi yang lebih buruk.

Salah satu kritik terbesar terhadap perang ini adalah dampaknya terhadap strategi global AS.

Fokus militer dan sumber daya yang dialihkan ke Timur Tengah dinilai menguntungkan rival besar seperti China dan Rusia.

Alih-alih memperkuat posisi global, perang ini justru dianggap mengalihkan perhatian dari kawasan Indo-Pasifik yang menjadi prioritas strategis AS dalam beberapa tahun terakhir.

Pendukung operasi militer AS berargumen bahwa perang ini berhasil menunjukkan kekuatan dan menekan program nuklir Iran.

Namun, pihak skeptis melihat bahwa biaya yang dikeluarkan jauh lebih besar dibanding manfaat yang diperoleh.

Baca Juga: Media Asing Sebut Indonesia Beruntung, Prototype KF-21 Boramae yang Bakal Diterima RI Rupanya Pegang Peran Penting

Dengan banyaknya target yang sudah dihancurkan di awal, kelanjutan perang dinilai tidak lagi memberikan keuntungan signifikan. Bahkan berisiko menjadi konflik tanpa akhir.

Perang antara AS dan Iran menjadi contoh nyata bahwa dominasi teknologi militer tidak selalu berbanding lurus dengan hasil strategis.

Halaman:

Tags

Terkini