Dalam operasi militernya, AS disebut berhasil menghancurkan sejumlah target penting milik Iran, termasuk infrastruktur militer, sistem rudal, hingga fasilitas nuklir.
Operasi seperti Operation Epic Fury diklaim mampu melemahkan kemampuan tempur Iran secara signifikan.
Namun, keberhasilan tersebut dinilai hanya bersifat taktis, bukan strategis.
Banyak pengamat menilai bahwa target bernilai tinggi sudah habis diserang di awal konflik.
Akibatnya, serangan lanjutan hanya memberikan dampak yang semakin kecil.
Lebih jauh lagi, kemampuan Iran untuk membangun kembali infrastrukturnya juga menjadi faktor yang membuat hasil perang ini terasa sementara.
Perang modern membutuhkan biaya luar biasa besar, terutama dengan penggunaan rudal presisi, drone, dan sistem tempur canggih.
Dalam konflik ini, AS menghabiskan sumber daya besar, termasuk stok rudal seperti Tomahawk, tanpa hasil yang benar-benar menentukan.
Kritik pun bermunculan, menyebut bahwa perang ini lebih banyak menguras anggaran dibanding memberikan keuntungan strategis jangka panjang.
Selain itu, konflik ini juga memicu guncangan ekonomi global.
Lonjakan harga energi, gangguan distribusi, hingga ketidakpastian pasar menjadi dampak langsung dari perang tersebut.
Di sisi lain, Iran tidak menghadapi AS dengan kekuatan konvensional semata.
Baca Juga: India Panik Kejar Jet Siluman, Pakistan Siap Terima 40 J-35, New Delhi Lirik Su-57 Rusia
Negara tersebut mengandalkan strategi asimetris, seperti penggunaan drone, rudal jarak menengah, serta jaringan proksi di kawasan.