Internasional

Totalitas Bantu Militer Indonesia, Pemimpin Rusia : Kami Adalah Sahabat Sejati

Rabu, 1 Maret 2023 | 20:25 WIB
Pemimpin Rusia menghormati Indonesia (kemlu.go.id)



ZONAJAKARTA.com - Militer Indonesia pernah kebanjiran alutsista dari Rusia saat masih bernama Uni Soviet.

Rusia menunjukkan bahwa negaranya memang totalitas membantu Indonesia menghadapi konfrontasi militer melawan Belanda dalam Trikora.

Militer Indonesia yang kala itu culun disulap Rusia dengan pasokan alutsista mematikan yang ditakuti Barat.

Walhasil Indonesia menjelma jadi negara dengan kekuatan militer terbesar di belahan bumi Selatan.

Jika tak ada Belanda yang cari gara-gara di Irian Barat, Indonesia mungkin tak akan pernah dekat dengan Uni Soviet.

Belanda memang sebelumnya tak mau melepas Irian.

Baca Juga: Kisah Operasi Rahasia Rusia Kirim Pilot Tempurnya untuk Bantu Indonesia Melawan NATO

Mereka bahkan membidani lahirnya embrio Organisasi Papua Merdeka (OPM) dengan harapan di masa depan bumi Cenderawasih merdeka dari Indonesia.

Aksi-aksi ini memang seharusnya ditentang oleh Indonesia dengan cara militer.

Meja diplomasi tak akan pernah mewujudkan Irian lepas dari cengkeraman Belanda.

Maka dikumandangkanlah Trikora pada 19 Desember 1961.

Usai Soekarno memerintahkan Trikora, angkatan bersenjata Indonesia menyusun struktur komando yang kemudian hari disebut Komando Mandala.

Komando Mandala bertanggungjawab atas pengembalian Irian ke pelukan NKRI.

Mayjen Soeharto ditunjuk sebagai komandan Mandala, terlebih teknis operasi disusun di markas Caduad.

Untuk melanggengkan Trikora, Komando Mandala merencanakan operasi Jayawijaya.

Jayawijaya nantinya menitikberatkan pada operasi lintas udara dan pendaratan amfibi.

Dua operasi ini akan jadi tulang punggung Jayawijaya merebut Biak.

Kenapa Biak dipilih sebagai prioritas serangan?

Alasannya karena Biak merupakan konsentrasi pasukan Belanda di Irian.

Baik Marinir, kapal perang hingga jet tempur Belanda di Irian ada di Biak.

Bila Biak diserang dan berhasil dikuasai, maka posisi militer Belanda di Irian otomatis hilang.

Selanjutnya militer Indonesia akan melakukan pukulan kilat ke kedudukan militer Belanda di seluruh Irian setelah HQ Biak dikuasai.

Akan tetapi menguasai Biak tak semudah teori di atas kertas.

Belanda sendiri sengaja menjadikan Biak sebagai basis operasi depannya lantaran wilayah itu berhadapan langsung dengan Indonesia.

Secara tak langsung Belanda sudah menantang perang di sini.

Menyerbu Biak tentunya akan memakan korban tak sedikit di pihak Indonesia.

Biak dipertahankan 1.400 Marinir, 5 kapal destroyer, 2 fregat dna 3 kapal selam.

Itu belum termasuk 10 ribu pasukan Belanda yang tersebar di seluruh Irian yang sewaktu-waktu bisa dimobilisasi mempertahankan Biak.

Hal ini juga dikhawatirkan Indonesia, bila Biak direbut maka Belanda pasti akan melancarkan serangan balik.

Kekuatan Indonesia sendiri sebetulnya melampaui Belanda.

Indonesia menyiapkan 13.000 tentara utama ditambah 7.000 pasukan Linud dan 4.500 Marinir.

Tapi Indonesia butuh jaminan lagi agar Biak bila sudah dikuasai tak diserang balik oleh Belanda.

Di sini Uni Soviet mendadak mengulurkan tangan.

Moskow setuju menjual kapal perang, kapal selam, jet tempur serta pesawat pembom Tu-16 untuk mempermulus langkah negeri ini merebut Irian Barat.

Dengan adanya deretan senjata ini maka menjamin Belanda tak balik menyerang.

Amerika Serikat alias AS yang mengetahui Soviet begitu dekat dengan Indonesia lantas mengambil langkah drastis.

Bukannya membantu Belanda melawan Indonesia, AS meminta Amsterdam mundur dari Irian Barat.

AS tak sudi melawan Indonesia dan Soviet di perang memperebutkan Irian Barat.

Mereka punya agenda lain yang lebih penting dibanding bermusuhan dengan Indonesia.

Baca Juga: Indonesia Dinilai Menderita Harus Rawat F-16, Su-27 dan Su-30

Presiden AS saat itu, John F Kennedy bahkan meminta agar kapal perang Belanda ditahan di Terusan Panama yang hendak menuju Irian Barat.

Menlu Belanda, Joseph Luns emosi melihat sekutunya malah 'mengkhianati' usaha negaranya mencaplok Irian Barat.

"Pada pertemuan dengan Presiden (Kennedy), Luns terbawa emosi karena ketidakadilan itu semua," beber Arthur Schlesinger, penuli biografi A Thousand Days : John F. Kennedy in The White House.

Sementara itu ketika tahu Belanda angkat kaki dari Irian Barat, pemimpin Uni Soviet Nikita Khruschev dalam memoarnya Memoirs of Nikita Khruschev menyampaikan jika negaranya totalitas membantu Indonesia.

"Kami membantu Indonesia bukan hanya dengan perkataan, akan tetapi dengan tindakan nyata," jelas Nikita.

Ia juga menyatakan Rusia ialah sahabat sejati Indonesia.

"Kami telah menunjukkan bahwa kami adalah sahabat sejati bagi negara-negara yang memperjuangkan kemerdekaannya," tegasnya.

Mau tak mau peran Rusia memang ada dalam DNA militer Indonesia.*

Baca Juga: Kompetitor Honda HRV, Indonesia Siap Kedatangan SUV Murah Berbanderol Rp 200 Jutaan






 



Tags

Terkini