Tambah lagi masalah industri pertahanan Rusia mencukupi semua kebutuhan senjata militernya sehingga tak menggagas ekspor.
"Rusia menghadapi penurunan besar dalam ekspor senjata.
Penurunan ini disebabkan oleh dua faktor: tuntutan Rusia yang mahal untuk terus menambah persenjataan dan peralatan yang hancur dalam perang melawan Ukraina; dan penurunan permintaan pelanggan terkait sanksi," jelas Kyiv Independent pada 17 Maret 2024.
Kesulitan menjual alutsista membuat Rusia mencari beberapa alternatif cara transaksi.
Mereka tak ingin menggunakan mata uang dolar AS di dalam transaksi alutsista buatannya.
Termasuk ke Indonesia, Rusia sebisa mungkin menghindari penggunaan dolar AS dalam transaksi Su-35.
Hasilnya 50 persen biaya transaksi menggunakan komodutas ekspor Indonesia macam minyak sawit, karet, minyak bumi, batu bara dan lainnya.
Cara seperti ini rupanya membuat AS marah.
Baca Juga: Su-35 Bekas Pesanan Indonesia Berpotensi Digunakan untuk Bertempur Melawan Israel
AS sama sekali tak suka dengan cara transaksi Su-35 Indonesia dan Rusia.
AS selalu menjaga mata uangnya jadi lembaran yang harus digunakan bertransaksi di seluruh dunia.
Hal ini untuk menjaga mata uangnya tetap laku karena dolar yang beredar di luar negeri tak ada jaminan emas di belakangnya.
Sehingga sebetulnya dolar AS yang beredar di luar negeri tak ubahnya cuma kertas biasa, yang membuatnya laku karena AS mampu menjaga hegemoninya di dunia.
Taktik yang menguntungkan bagi AS mereka bisa berinvenstasi cuma dengan kertas biasa namun mendapat gantinya berupa materi yang benar-benar berharga semisal minyak bumi, batu bara dan tentunya emas di Papua.
Maka untuk menghentikan ini Indonesia sengaja membeli Su-35 dengan minyak sawit.