Dari Indonesia mengumumkan tender pengadaan jet tempur generasi keempat tahun 1986, F-16 menikung Mirage 2000 yang kala itu hampir dibeli.
F-16 sebanyak 12 unit langsung dibeli Indonesia dari Lockheed Martin untuk mengimbangi pesatnya teknologi pertahanan matra udara.
Pembelian F-16 Indonesia sangat didukung oleh pemerintah AS yang kala itu presidennya ialah Bill Clinton.
Clinton bahkan berani mengesampingkan interupsi Kongres AS mengenai laporan pelanggaran HAM yang dilakukan militer Indonesia di Timor Timur.
Memang AS mendukung invasi Indonesia di Timtim sejak tahun 1975.
AS berulang kali menyuplai kebutuhan militer Indonesia untuk melaksanakan operasi tempur di sana.
Hampir semua alutsista matra udara yang digunakan Indonesia di Timtim merupakan buatan AS.
Maka soal pembelian F-16, pemerintah AS oke saja bahkan mensupport penuh.
"Faktanya, perhatian Kongres terhadap catatan hak asasi manusia Indonesia mungkin tidak banyak mempengaruhi keputusan Presiden Clinton untuk menarik dukungan terhadap kesepakatan tersebut.
Drama kecil seputar penjualan F-16 ke Indonesia jelas menunjukkan Hukum Politik Birokrasi Mile," jelas Global Security.
Bahkan AS malah menyodorkan F-16 ke Indonesia dan menjamin akan dikirim tepat waktu.
"Indonesia awalnya menyetujui pembelian F-16 sebagai tanggapan atas permintaan AS.
Kecenderungan Kongres untuk melihat hubungan AS-Indonesia sebagai permainan moralitas yang didefinisikan dengan kata-kata Timor Timur terus menekan pihak Washington dalam hubungan tersebut," ungkapnya.
Baca Juga: USAF dan Departemen Luar Negeri AS Tolak Embargo F-16 Indonesia di Masa Lalu
Namun lama kelamaan Indonesia malas juga lantaran proposalnya untuk membeli F-16 ditolak Kongres AS meski pemerintahan Clinton mendukung 100 persen.