Hingga pada 2 Juni 1997, Indonesia memutuskan tak mau lagi membeli F-16.
"Surat Suharto kepada Presiden Clinton pada 02 Juni 1997 mengumumkan bahwa Indonesia tidak lagi membutuhkan pesawat F-16 atau keikutsertaan dalam program Pendidikan dan Pelatihan Militer Internasional (IMET)," jelasnya.
Setelah adanya surat itu praktis Indonesia puasa belanja alutsista dari AS.
Menginjak tahun 2007, kerjasama pertahanan antara AS dan Indonesia kembali terjalin.
Indonesia minat lagi dengan f-16 dimana ada dua paket pesanan yang sedang dirundingkan.
"Pada tahun 2007 Indonesia secara aktif mengejar dua pesanan besar untuk pesawat F-16 AS baru dan suku cadang untuk memperbarui model lama yang ada.
Dua kesepakatan, kasus Penjualan Militer Asing (FMS) dan kasus komersial, masing-masing melibatkan beberapa ratus juta dolar, menunjukkan bahwa Angkatan Udara Indonesia dan Kementerian Pertahanan dapat menemukan uang untuk dibelanjakan pada senjata prioritas tinggi dan bersedia membeli senjata AS," katanya.
Di sini AS melihat ada pencabangan dari pemerintah Indonesia dengan militernya.
Maksudnya pemerintah mau alutsista A namun militer ingin B.
"Kedua pembelian tersebut, yang masing-masing berasal dari Angkatan Udara dan Kementerian Pertahanan, tampaknya tidak terkoordinasi satu sama lain, menunjukkan percabangan yang masih ada dalam penganggaran, perencanaan, dan pengadaan militer Indonesia," jelas Global Security.
AS semakin kebakaran jenggot karena pada 6 September 2007 presiden Rusia Vladimir Putin berkunjung ke Indonesia.
Putin dan Indonesia menandatangani kesepakatan senjata senilai 1 miliar dolar AS.
"Kesepakatan ini terjadi setelah kesepakatan senjata senilai 1 miliar dolar AS dengan Rusia, yang seluruhnya didasarkan pada kredit, yang ditandatangani selama kunjungan Presiden Putin baru-baru ini (tahun 2007) ke Jakarta," bebernya.
Oleh sebab itu AS memboost penjualan atau hibah F-16 ke Indonesia secepat mungkin agar tak pindah haluan ke Rusia.
"Kesepakatan pertama melibatkan permintaan data harga dan ketersediaan oleh Angkatan Udara untuk enam belas model produksi blok-52 F-16 baru, dengan maksud untuk menerima pengiriman mulai tahun 2012," ungkapnya.