ZONAJAKARTA.com - Militer Indonesia memang belum kuat jika disuruh perang berlarut.
Wajar saja, sebab peperangan berlarut cuma bisa dijalankan bagi negara yang punya industri pertahanan besar.
Maka tak pelak militer Indonesia merancang strategi peperangan asimetris untuk menghadapi kekuatan lawan yang jauh lebih kuat.
Contohnya Irak dalam perang Teluk mereka dipaksa menggunakan pola ini dimana pasukan Sekutu menguasai udara.
Baca Juga: C 27J Spartan, Pesawat Angkut Taktis Hampir Dibeli Indonesia
Irak tak berani menerbangkan jet tempurnya dan cara menghalau serangan udara sekutu cuma melalui sistem pertahanan udara yang berpusat di darat.
Itu ialah taktik asimetris yang diparktekkan Irak dan akhirnya Baghdad kalah.
Namun strategi asimetris paling berhasil diterapkan Vietnam Utara kala melawan Selatan yang dibantu Amerika Serikat (AS).
Viet Cong dan tentara Vietnam Utara yakni Viet Minh mempraktekan peperangan pasif dimana mereka lebih condong ke bertahan dan melakukan serangan balik ke pos-pos depan AS.
AS sendiri saat perang Vietnam juga kerap salah kaprah menerapkan strategi menghadapi peperangan asimetris.
Mereka membangun kubu-kubu pertahanan di desa-desa terluar Vietnam dengan melibatkan penduduk sipil setempat untuk ikut berperang.
Parahnya desa-desa tersebut bila diserang pihak Utara langsung terputus dari bantuan sehingga pasukan AS di sana harus bertempur mati-matian sendirian.
Nah, bagaimana dengan taktik militer Indonesia kala menghadapi peperangan asimetris belum sepenuhnya nampak dalam latihan.
Cuma melihat latihan-latihan yang selama ini dilakukan, mungkin militer Indonesia 'tidak ingin' menerapkan hal ini.