Namun Kementerian Keuangan RI menyetujui permintaan pinjaman luar negeri sebesar $2,16 miliar untuk dua kapal selam tahun lalu.
Kapal selam Scorpene dirawat oleh 31 personel, platform sepanjang 72 meter (233 kaki) ini memiliki enam tabung peluncur dan membawa 18 torpedo atau rudal.
Bergantung pada konfigurasi yang tepat, tipe ini memiliki bobot 1.600-2.000 ton, dapat tetap terendam selama sedikitnya 12 hari, dan dapat beroperasi pada misi yang berlangsung selama 80 hari.
Jika pembangunan dimulai tahun depan, kapal pertama dapat mulai beroperasi pada tahun 2033, berdasarkan tingkat pembangunan komparatif program Scorpene India.
Dikutip dari laman Naval News edisi 19 Mei 2024, kapal selam Scorpene akan diserahkan kepada TNI AL dalam waktu 96 bulan atau delapan tahun sejak tanggal efektif kontrak.
Menurut PT PAL, para insinyur Indonesia yang akan terlibat dalam pembangunan Scorpène Evolved akan dilatih, disertifikasi, dan diawasi oleh Naval Group serta pihak terkait lainnya.
Keminatan Indonesia untuk menambah kapal selam baru ini membuat China menawarkan kapal selam produksi negaranya, S26T.
Dilansir dari laman South China Morning Post (SCMP) edisi 9 Agustus 2024, perwakilan dari China State Shipbuilding Corporation (CSSC) telah melakukan perjalanan ke Jakarta dalam beberapa bulan terakhir.
Dalam kunjungan terakhir yang dilaporkan pada tanggal 4 Juli 2024, China menawarkan kapal selam diesel-listrik (SSK) S26T dan kapal perusak berpeluru kendali kepada Kementerian Pertahanan (Kemhan) Indonesia dengan harga diskon.
Kemhan dikutip dari media lokal yang mengonfirmasi tawaran kapal selam tersebut tetapi mengatakan prosesnya masih dalam tahap proposal.
Kunjungan para eksekutif CSSC itu dilakukan setelah Asia-Pacific Defence Journal melaporkan bahwa TNI AL dikatakan telah menunjukkan minat pada bulan Januari untuk membeli sistem rudal pantai YJ-12E buatan China.
Jika terkonfirmasi, pembelian tersebut akan sejalan dengan tahap ketiga rencana Kekuatan Pokok Minimum (MEF) Indonesia, sebuah cetak biru yang digariskan pada tahun 2009 untuk memodernisasi perangkat keras militer negara yang sudah tua.
Namun mski Tiongkok menawarkan kapal selam baru dan peralatan pertahanan lainny, Indonesia masih bersikap suam-suam kuku dalam minatny mengembangkan kemitraan industri pertahanan dengan Beijing.