Padahal China dan Indonesia telah menjalin kemitraan strategis pada tahun 2005, kata para analis.
Koordinator penelitian dan manajer firma konsultan Semar Sentinel Indonesia, Anastasia Febiola, pengadaan baru ini, jika dikonfrimasi, akan menandai pergeseran dalam hubungan pertahanan Indonesia dan China.
Terlebih, karena Indonesia sebelumnya hanya memperoleh peralatan kecil dari Beijing.
Baca Juga: Jajal Jet Tempur Rafale juga Cara Indonesia Pererat Hubungan Bilateral Prancis Sejak 1950
Sejauh ini, Indonesia telah membeli rudal antikapal C-705 dan C-802, kendaraan udara tak berawak, dan sistem pertahanan udara gerak sendiri dari Tiongkok.
Menurut Institut Internasional untuk Studi Strategis, program pengadaan pertahanan terkini dengan Tiongkok ini hanya mewakili 0,09 persen dari total kesepakatan impor pertahanan senilai US$30 miliar yang ditandatangani Jakarta sejak 2014.
"Namun kali ini tawaran China adalah kapal selam, yang merupakan sistem persenjataan utama," kata Anastasia.
Tawaran tersebut merupakan perkembangan yang menarik karena Indonesia baru saja menandatangani kontrak senilai US$2 miliar dengan produsen Prancis Naval Group untuk dua kapal selam baru, imbuhnya.
Apakah kesepakatan pertahanan dengan Tiongkok akan terkonfirmasi atau tidak, dapat menjadi sinyal “pergeseran momentum” dalam hubungan keamanan yang tidak merata antara Indonesia dengan Tiongkok, menurut Anastasia.
Selain kesepakatan kapal selam dengan Prancis, Indonesia mendapatkan persenjataan militernya terutama dari Italia, Swedia, Belgia, Amerika Serikat, dan Korea Selatan.
Indonesia telah berupaya untuk untuk mendiversifikasi impor pertahanannya untuk menghindari ketergantungan yang berlebihan pada satu pemasok saja, kata Anastasia.
Direktur eksekutif lembaga pemikir independen Verve Research dan dosen di Deakin University, Australian War College, Natalie Sambhi, mengatakan para pembuat keputusan pertahanan dan militer Indonesia biasanya lebih memilih persenjataan canggih Amerika Serikat dan Eropa meskipun harganya lebih mahal.
Natalie mencontohkan, selama masa jabatan Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan sejak November 2019, dirinya menunjukkan preferensi terhadap alutsista, khususnya jet tempur dan kapal selam buatan Prancis.
Menurut para analis, menggabungkan kapal selam China baru ke dalam portofolio persenjataan Indonesia dapat menimbulkan tantangan, khususnya terkait interoperabilitas antara berbagai platform nasional.