DSA merupakan pameran pertahanan terbesar di Asia Tenggara.
Berdasarkan rilis resmi ZALA Aero Group yang dipublikasikan menjelang DSA 2026 "ZALA at DSA 2026: Export version of the «Lancet-E» UAV in full combat configuration", izin ekspor aktif diperoleh di awal 2026.
Di pameran ini, sistem Lancet-E ditampilkan lengkap beserta launcher portabel baru yang memungkinkan peluncuran hanya oleh satu orang, sebuah peningkatan yang memperpendek waktu persiapan di lapangan secara signifikan.
Baca Juga: Rafale Diobral dengan Harga Murah ke Negara Ini Tetapi Ada Alasan di Baliknya
Rosoboronexport, eksportir senjata negara Rusia, memposisikan Lancet-E sebagai alternatif terhadap loitering munition Barat dan Israel khususnya bagi pembeli yang mencari harga terjangkau, rekam jejak tempur nyata, dan syarat penggunaan yang lebih longgar.
Mengacu pada Defence Security Asia 15 April 2026 "Russia Targets Malaysia With Su-57E, Combat-Tested Drones and Loitering Munitions at DSA 2026", sistem-sistem drone yang ditampilkan di DSA 2026 oleh Rosoboronexport termasuk Lancet-E, KUB-2E, dan Orlan, semuanya sudah digunakan dalam operasi militer sungguhan.
Sementara Indonesia Bangun dari Dalam
Di sisi lain, Indonesia tidak berdiam diri. PT Republik Defence, perusahaan pertahanan swasta nasional, memperkenalkan Bramara Kamikaze di ajang Indo Defence 2025.
Drone ini bisa masuk ransel, punya kecepatan maksimal 119 kilometer per jam, dan radius operasi 2,5 kilometer.
PT DAHANA sebelumnya juga mengembangkan loitering munition Rajata, sementara PT Pindad mengerjakan Minibe.
Dorongan untuk mengembangkan kemampuan ini bukan tanpa dasar kebijakan.
Presiden Prabowo Subianto, ketika masih menjabat Menteri Pertahanan pada November 2022, secara terbuka menyampaikan hal ini.
Mengutip dari Antaranews yang terbit 8 November 2022 "Prabowo minta TNI AU bangun kekuatan pertahanan udara berbasis drone", Prabowo menyatakan Indonesia harus mengerahkan taktik teknologi dan kemampuan kumpulan drone dalam jumlah besar, termasuk drone kamikaze dengan sistem otonom di udara, laut, maupun darat.
Dengan industri pertahanan domestik yang sudah mulai bergerak dan komitmen kebijakan yang sudah terucap, pertanyaannya kini adalah, apakah Indonesia cukup mengembangkan dari dalam atau justru membuka ruang untuk sistem seperti Lancet-E yang sudah teruji perang?***