Perbandingan dengan program jet tempur lain memberi konteks yang penting.
F-35A membutuhkan sekitar 300 hari antara rollout dan penerbangan perdananya.
F-22 Raptor memerlukan sekitar 150 hari. Bahkan prototipe pertama KF-21 sendiri membutuhkan 466 hari dari rollout April 2021 hingga penerbangan pertamanya pada Juli 2022.
Bagi pesawat produksi serial pertamanya, jarak itu menyusut menjadi 22 hari.
Kesenjangan ini bukan karena prosedur dipersingkat.
Ini karena pesawat produksi serial tidak perlu membuktikan hal-hal yang sudah diselesaikan oleh enam prototipe sebelumnya.
Kepala Program KF-21 DAPA, Noh Ji-man, menyatakan sebagaimana dikutip ZONAJAKARTA.com dari laman The Defense Post yang dimuat 13 Januari 2026 dalam artikelnya berjudul "KF-21 Boramae Nears Delivery as S. Korea Wraps Up Flight Tests", bahwa pihaknya akan berupaya sekuat tenaga agar pengujian senjata tambahan, produksi massal, dan integrasi operasional berjalan tanpa hambatan.
Radar APY-016K buatan Hanwha Systems, yang dilengkapi sekitar 1.000 modul pemancar-penerima dan mampu mendeteksi target dari jarak 150 hingga 200 kilometer, sudah divalidasi penuh selama fase prototipe.
Sistem inilah yang langsung terpasang pada pesawat produksi, bukan varian eksperimental yang masih butuh kalibrasi tambahan.
Menuju Dinas Aktif September 2026
Penerbangan 15 April ini bukan titik akhir, melainkan awal dari fase verifikasi penerimaan sebelum serah terima resmi ke Angkatan Udara Republik Korea.
Pemerintah Korea Selatan menetapkan September 2026 sebagai target awal operasional dengan 40 unit KF-21 Block 1, yang sebagian akan menggantikan F-4 Phantom dan F-5 Tiger, armada peninggalan era Perang Dingin yang sudah lama memasuki masa pensiun.
KAI berencana mengantarkan 31 unit pada 2027 dan 47 unit lagi pada 2028, membentuk fondasi armada tempur homegrown pertama Korea Selatan yang benar-benar siap garis depan.***