Sebagian besar masalah bermula dari tindakan pemerintah negara itu sendiri yang bertindak menjual Rafale yang digunakan oleh Angkatan Udara Prancis ke Kroasia, sekaligus mengurangi jumlah pesawat di Angkatan Udaranya.
Baca Juga: Rafale yang Diborong Indonesia Bikin AU Negeri Menara Eiffel Dalam Bahaya, WAKASAU Prancis: Kritis!
Pada November 2022 lalu, pemerintah Kroasia menandatangani kesepakatan senilai US$1,1 miliar dengan Prancis untuk membeli 12 unit Rafale F-3R berusia 14 tahun yang masih digunakan oleh Angkatan Udara Prancis.
Semua 12 unit Rafale bekas akan diserahkan ke Kroasia tahun depan.
Sebelum penjualan Rafale bekas ke Kroasia, pemerintah Prancis juga menandatangani perjanjian dengan Yunani pada Januari 2021 untuk menjual 24 unit pesawat tempur Omnirole.
Sebanyak 12 unit Rafale yang dibeli Yunani merupakan pesawat yang masih digunakan oleh Angkatan Udara Prancis sedangkan sisanya merupakan pesawat yang baru dibangun oleh pabrikan.
Baca Juga: Lakukan Safari Lapangan, Mahfud MD Temukan 3 Hal ini Terkait Operasi Human Trafficking Di Batam
Untuk menggantikan 24 pesawat tempur Rafale Angkatan Udara Prancis yang 'hilang' ke Yunani dan Kroasia, Kementerian Angkatan Bersenjata negara itu diperkirakan akan membeli 40 unit Rafale modern, F4, tahun depan.
Namun, Angkatan Udara Prancis baru akan mulai menerima 40 unit Rafale baru pada tahun 2027.
Selain itu, keberhasilan ekspor Rafale, khususnya penjualan 20 unit pesawat tempur ke Uni Emirat Arab dan 36 unit ke Indonesia membuat produsen Rafale, Dassault Aviation juga menghadapi tekanan untuk meningkatkan produksi pesawat guna memenuhi permintaan dari luar negeri dan dalam negeri.
Baca Juga: Masih Soal Operasi Human Trafficking Di Batam, Mahfud MD: Ada Oknum Aparat Yang Bermain
Juli lalu, Wakil Kepala Staf Angkatan Udara Prancis mengatakan kepada Parlemen negara itu bahwa masalah kurangnya jam terbang yang dialami pilot pesawat Rafale negara itu akan berlanjut selama dua tahun, selama Dassault Aviation tidak memproduksi pesawat Rafale terbaru.
Ia juga mengatakan situasi masih bisa diterima jika pesawat baru yang dipesan diterima tepat waktu.
Namun, jika pesawat gagal diselesaikan sesuai jadwal, maka Angkatan Udara Prancis akan menghadapi masalah besar yang memaksanya untuk mengandalkan pesawat tempur yang sudah tua, yang semakin mengurangi efektivitasnya pada saat Eropa terhuyung-huyung akibat ancamn dari Rusia.
Baca Juga: OTT KPK, Bupati Meranti Muhammad Adil Terduga Kasus Suap Hingga Raup Dana Umrah