Dikutip dari Bay of Bengal Post, Juli 2025 (dengan update lanjutan 2026), kelompok hak asasi manusia seperti Justice for Myanmar mendesak sanksi global terhadap NORINCO.
NORINCO dituduh memasok senjata dan teknologi ke junta militer Myanmar yang terlibat pelanggaran HAM berat.
Selain itu, NORINCO juga masuk dalam daftar perusahaan militer China yang diawasi ketat oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat.
Baca Juga: Kalahkan Malaysia, Indonesia Berpeluang Jadi Operator A400M Terbesar di Asia Tenggara
3. BAE Systems dari Inggris dan Kritik Penjualan Senjata ke Timur Tengah
BAE Systems, salah satu perusahaan pertahanan terbesar di dunia asal Inggris, telah mengonfirmasi partisipasinya di DSA 2026.
Perusahaan ini dikenal memproduksi sistem senjata darat, udara, dan komponen untuk jet tempur.
Dikutip dari laporan OHCHR PBB, Juni 2024 (dengan referensi berkelanjutan hingga 2026), BAE Systems termasuk dalam daftar perusahaan yang diminta menghentikan transfer senjata ke Israel karena risiko keterlibatan dalam pelanggaran hukum humaniter internasional di Gaza.
Kritik serupa juga muncul dari kelompok masyarakat sipil terkait kesepakatan lama seperti Al-Yamamah dengan Arab Saudi.
4. Lockheed Martin dari Amerika Serikat dan Polemik F-35
Lockheed Martin, raksasa pertahanan Amerika Serikat, juga tercatat dalam daftar exhibitor DSA 2026 melalui paviliun AS.
Perusahaan ini adalah produsen utama jet tempur F-35 dan berbagai sistem rudal canggih.
Dikutip dari berbagai laporan Business and Human Rights Resource Centre serta pernyataan ahli PBB, Lockheed Martin sering dikritik karena penjualan senjata ke negara-negara yang terlibat konflik, termasuk komponen yang digunakan dalam operasi militer yang menimbulkan korban sipil.
Meski selalu menegaskan kepatuhan terhadap regulasi ekspor pemerintah AS, kritik terhadap peran perusahaan ini tetap muncul secara rutin.