AS Sedang Memancing China Agar Serang Taiwan Pada 2025

photo author
Beryl Santoso, Zona Jakarta
- Sabtu, 25 Februari 2023 | 12:51 WIB
AS kirim pasukan USMC ke Taiwan untuk tangkal agresi China (marines.mil)
AS kirim pasukan USMC ke Taiwan untuk tangkal agresi China (marines.mil)

Terlebih Biden pernah mengatakan AS tentu akan membantu Taiwan bila invasi China datang.

"Amerika Serikat akan melipatgandakan jumlah pasukan AS yang ditempatkan di Taiwan, yang diklaim China sebagai wilayahnya sendiri," lapor wsws.org pada 24 Februari 2023.

Pengiriman pasukan ini mengindikasikan bahwa perang semakin dekat.

Jenderal Mike Minihan, kepala Komando Mobilitas Udara US Army pernah menulis dalam sebuah surat bahwa pasukannya akan siap tempur pada tahun 2025.

Ia meminta semua anak buahnya untuk menyelesaikan urusan pribadinya masing-masing sebelum persiapan berangkat ke Taiwan menyongsong pertempuran.

"Naluri saya mengatakan bahwa kami akan berperang pada tahun 2025," kata Mike.

Dalam laporan situs The Journal, AS bersiap memperluas cakupan program pelatihan bagi militer Taiwan.

Pelatihan ini disinyalir akan berfokus pada metode menjalankan Modern Warfare yang China sendiri tak punya pengalaman tempur ini.

"Kekuatan yang lebih besar akan memperluas program pelatihan yang telah dilakukan Pentagon dengan susah payah untuk tidak dipublikasikan karena AS bekerja untuk memberi Taipei kemampuan yang dibutuhkannya untuk mempertahankan diri tanpa memprovokasi Beijing," jelas The Journal.

Pengiriman pasukan AS ke Taiwan disebut memancing China agar segera menyerang.

"Amerika Serikat secara aktif mengubah Taiwan menjadi pangkalan militer hanya puluhan mil di lepas pantai China daratan, dengan tujuan mendorong China untuk menyerang pulau itu, dan menggambarkan perang berikutnya sebagai hasil dari agresi China," jelas wsws.org.*

Baca Juga: China Puji Fregat Merah Putih Indonesia : Menakjubkan, Sebanding dengan Destroyer

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Beryl Santoso

Sumber: Wsws org, The Journal

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X