Dalam latihan tempur udara tiruan, tuduhan mengatakan bahwa Rafale Angkatan Udara Prancis yang dilengkapi dengan rudal udara-ke-udara "MICA" telah berhasil "menembak jatuh" Raptor dalam latihan tersebut.
Bahkan, beberapa pihak di angkatan udara Prancis telah merilis video yang diambil dari kokpit pesawat yang menunjukkan pesawat Rafale berada dalam posisi yang sangat baik untuk meluncurkan rudal "MICA" terhadap pesawat F-22 yang berada dalam posisi yang sangat baik.
Video itu dirilis setelah Angkatan Udara AS membantah bahwa F-22 mereka telah "ditembak jatuh" oleh pesawat generasi 4,5 buatan Prancis yang dikatakan lebih tua dan kurang modern dari Raptor, dikutip dari Defence Security Asia.
Amerika tentu tidak mau mengakui bahwa jet tempur generasi kelimanya telah berhasil dijinakkan oleh jet tempur generasi 4,5.
Angkatan Udara AS mengklaim tidak ada pesawat F-22 Raptor yang berhasil "ditembak jatuh" dalam pelatihan di UEA.
Bahkan, itu membuat klaim bahwa Raptor telah berhasil menembak jatuh enam pesawat Rafale dalam bentrokan satu lawan satu dalam latihan sementara lima pertempuran lainnya berakhir imbang.
Itu adalah "serangan pembalasan" dari militer AS karena klaim F-22 yang ditembak jatuh di latihan mulai beredar di komunitas angkatan udara internasional.
Bahkan, tidak hanya Rafale yang diduga berhasil "menembak jatuh" Raptor dalam latihan di pangkalan udara Al Dhahfra, tetapi sebuah Mirage 2000 milik Angkatan Udara UEA juga diduga berhasil menembak jatuh pesawat tempur tercanggih di dunia. pada saat itu.
Bahkan, menurut beberapa pengamat pertahanan, F-22 justru dikalahkan oleh F-16 Angkatan Udara Amerika Serikat dalam latihan yang diadakan pada 2006 lalu.
Keberhasilan F-16 dikatakan telah diulang oleh pesawat Growler pada tahun 2008 atau 2008.
Seorang komandan skuadron F-22 Raptor, Letnan Kolonel Dirk Smith mengatakan kepada majalah pertahanan bahwa tidak peduli seberapa bagus sebuah pesawat, setiap pilot dapat membuat kesalahan.***