Lebih spesifik, Indonesia mau membeli F-16 baru dan suku cadang untuk memperbarui model lama.
“Dua kesepakatan, kasus Penjualan Militer Asing (FMS) dan kasus komersial, masing-masing melibatkan beberapa ratusan juta Dolar, menunjukkan bahwa AU Indonesia dan Kemenhan dapat menemukan uang untuk dibelanjakan pada senjata prioritas tinggi dan bersedia membeli senjata AS”, terang Global Security.
Namun di sini, Amerika melihat adanya pencabangan dari pemerintah Indonesia dengan militernya.
Sederhananya, Pemerintah Indonesia ingin beli alutsista A sedangkan militernya ingin B.
Dan benar saja, kekhawatiran Amerika terbukti pada 6 September 2007 saat kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Indonesia.
Pada momen itu, Putin dan Indonesia menandatangani kesepakatan senjata senilai 1 miliar Dolar.
Tidak mau kehilangan Indonesia, Amerika menghibahkan F-16 secepat mungkin.
Hibah itu meliputi, 16 model Blok 52 F-16 baru yang dikirim mulai tahun 2012.
Sampai sekarang, F-16 merupakan tulang punggung Indonesia untuk menjaga kedaulatannya dari udara.
Artikel ini sudah publish lebih dulu di Zona Jakarta, silahkan klik di sini.
***