ZONAJAKARTA.com - China memang sudah mengembangkan industri pertahanannya dengan cukup sukses dimana lahirnya J-10 jadi tonggak penting.
J-10 merupakan pertanda bahwa China mampu membuat sendiri alutsista canggih yang bisa melaksanakan modern warfare.
Sebelum lahirnya J-10, China menggunakan jet tempur jebot macam J-7, J-8 dan J-9.
Populasi deretan penempur J sebelum menginjak angka 10 tentunya teknologi usang Uni Soviet.
Baca Juga: China Banderol Murah J-10 Demi Saingi Pasaran F-16 Viper yang Ditawarkan ke Indonesia
Deretan penempur lawas itu jelas mengkhawatirkan PLAAF yang dimana mereka butuh jet tempur baru yang bugar.
Untuk itu dimulailah program J-10 pada tahun 1981 dimana Chengdu Aircraft Industry Group (CAIG) ditunjuk pemerintah China menangani program ini.
Komandan PLAAF saat itu, Zhang Tingfa meminta pada pemimpin China, Deng Xiaoping untuk menyegerakan memproduksi J-10.
Alasannya J-10 sebagai tulang punggung PLAAF dimana jumlahnya saat ini mencapai 548 unit.
Sontak saja pemerintah China saat ini memberikan support penuh terhadap produksi hingga penjualan J-10 ke luar negeri.
Pakistan dipastikan membeli J-10 dan calon kuat lainnya ialah Turki menggantikan F-16 miliknya.
Indonesia juga tak luput dari sasaran penjualan J-10.
Maka dari itu China menawari Indonesia J-10, jet tempur murah meriah, diklaim canggih dan tentunya anti embargo.